Tata Cara Sembahyang 49 Hari Orang Meninggal Berdasarkan Tradisi Tionghoa

Spread the love.....

49 hari setelah meninggal adalah sebuah saat yang sangat penting bagi orang yang baru meninggal, karena pada hari ke 49 tersebut Beliau berangkat menuju kehidupan berikutnya.

Berikut ini adalah sebuah tata cara sembahyang 49 hari bagi orang meninggal berdasarkan sebuah tradisi Tionghoa.

Gelar meja sembahyang.

Sediakan 5 piring buah berisi masing-masing 5 bh. Pilih buah yang tidak berbulu, berambut, berduri, misal:
– 5 buah apel
– 5 buah jeruk
– 5 buah pir
– 1 buah semangka (Semangka cukup 1 buah karena ukurannya yang cukup besar)
– 1 sisir buah pisang
– 1 rangkaian buah anggur
– 1 rangkaian buah kelengkeng yang sudah dibersihkan gagangnya.

Buah disesuaikan ketersediaannya dengan kondisi setempat.

Pasang photo almarhum.

Di depan photo sediakan hiolo atau gelas berisi beras untuk menancapkan hio.

Hio 2 batang per orang, dan menggunakan warna standard kuning.

Sepasang lilin putih kecil, dengan ukuran bebas sepantasnya, disesuaikan dengan besarnya meja, hiolo dan sebagainya.

3 gelas berisi minuman kesukaan, misalnya:
– Air putih
– Teh
– Susu
– Kopi
– Fanta

Pagi hari sudah di gelar.

Lalu sembahyang memohon kepada Thian agar almarhum mendapatkan kehidupan yang lebih baik di kehidupan berikutnya.

Sore sebelum diberesin, lakukan Poa Pwe dengan menyediakan 2 uang koin.

Lalu meminta ijin kepada almarhum apakah sudah bisa diberesin.

Kemudian lempar kedua uang koin tersebut ke atas.

Saat uang koin jatuh, jika hasilnya:
– Gambar & gambar, berarti belum bisa diberesin.
– Angka & angka, berarti belum bisa diberesin.
– Gambar & angka, berarti sudah bisa diberesin.

Apabila hasilnya masih belum bisa dibereskan, silahkan tunggu beberapa saat, lalu lakukan Poa Pwe kembali.

Selesai , buah-buahan bisa dimakan sekeluarga.


Spread the love.....

Asal usul adanya Ciam Sie dan persembahan pada Dewa

Spread the love.....

Oleh: Efendi

Pada jaman dahulu sudah banyak orang-orang yang datang ke klenteng mencari Guru-Guru agama untuk meminta bantuan atau pertolongan. Ada yang menanyakan nasib dan jodoh mereka, dan ada juga untuk penyembuhan penyakit-penyakit serta meminta obat-obatan.

Tetapi pada bulan bulan-bulan tertentu, para Guru itu tidak ada di klenteng karena mencari obat-obatan di hutan atau di pegunungan, seperti ginseng, jamur, dan lain-lainnya. Dalam pencarian obat ini dibutuhkan waktu berbulan-bulan lamanya.

Continue reading »


Spread the love.....