Memandang Bulan Hingga Tengah Malam

Legenda mengatakan bahwa pada jaman dahulu ada sebuah keluarga, keluarga Yang, yang menikahkan anak lelakinya, yang masih anak kecil, dengan Yao, anak perempuan ke enam dari keluarga Yao.

Keluarga Yang memperlakukan Yao seperti budak sejak hari pernikahan. Dari mulai mencuci, menenun, memasak dan banyak lagi. Apabila pekerjaan yang diberikan tidak dapat diselesaikan, maka perlakuan kasar akan diterima Yao.

Suatu hari pada tanggal lima belas bulan delapan Imlek, keluarga Yang memberikan 7 keranjang kapas kepada Yao untuk ditenun menjadi kain dan harus selesai pada keesokan harinya.

Sepanjang hari Yao terus menenun untuk menyelesaikan 7 keranjang yang diberikan. Pada kira-kira tengah malam, minyak yang dipakai untuk penerangan habis. Ditengah kebingungan, Yao melihat terangnya bulan saat itu sehingga memindahkan alat tenun ke halaman rumah untuk melanjutkan pekerjaan yang belum selesai dengan diterangi cahaya bulan.

Pada saat Yao sedang menenun, di langit melintas sebuah perahu naga besar berisi para Dewa yang sedang menikmati terangnya bulan. Mereka melihat Yao sedang menenun. Salah seorang Dewa berkata agar tidak perlu menenun lagi dan beristirahat.

Yao berkata bahwa dirinya harus menyelesaikan tenunan apabila tidak ingin mendapat perlakuan kasar. Tiba-tiba angin menerpa dengan keras dan cahaya terang bulan tidak ada lagi.

Yao dengan terpaksa berhenti menenun dan memindahkan alat tenunnya ke dalam rumah, lalu beristirahat.

Pada pagi hari, Yao sudah membayangkan perlakuan kasar yang akan menimpa dirinya. Namun saat keluarga Yang melihat alat tenun yang ada, mereka terkejut dan heran karena alat tenun yang biasa dipakai Yao telah berubah menjadi alat tenun yang terbuat dari emas.

Ketika Yao ditanya, dia hanya menceritakan kejadian semalam.

Akhirnya keluarga Yang menyadari bahwa Yao adalah seorang yang sangat baik dan beruntung.

Sejak saat itu keluarga Yang selalu memperlakukan Yao dengan baik.

Cerita ini diturunkan dari generasi ke generasi sehingga memandang bulan pada Perayaan Pertengahan Musim Gugur hingga larut malam menjadi sebuah tradisi. Dengan harapan dapat melihat perahu naga para Dewa.

6 thoughts on “Memandang Bulan Hingga Tengah Malam

  1. Pingback: Tionghoa » Perayaan Pertengahan Musim Gugur » Budaya, Tradisi dan Sejarah

    • Penanggalan Masehi biasanya lebih cepat satu bulan dari penanggalan Imlek. Jadi bulan 8 tanggal 15 penanggalan Imlek maka di penanggalan Masehi menjadi sekitar bulan 9(September), seperti di tahun 2010 ini, perayaan Tengah Musim Gugur jatuh pada tanggal 22 September.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *