Cao-E

Berdasarkan legenda, pada suatu tahun di hari ke lima bulan ke lima Imlek selama masa pemerintahan Kaisar An Di dari Dinasti Han Timur, terdapat seorang pria bernama Cao Ding yang sedang menikmati suara ombak.

Suara ombak sungai bagi Cao Ding jauh lebih indah dibandingkan suara dedaunan tertiup angin, juga dibandingkan kemeriahan laskar tentara yang sedang menikmati kemenangan.

Ditengah keasyikannya, secara tiba-tiba Cao Ding tersapu ombak dan menghilang.

Anak Cao Ding, Cao-E, hanya dapat menemukan kipas sang ayah. Cao-E sangat sedih menyadari bahwa sang ayah telah meninggalkan dirinya. Kesedihan semakin bertambah demi menyadari bahwa dirinya tidak dapat menemukan jasad sang ayah.

Para nelayan memberikan nasehat agar Cao-E pulang dan beristirahat, dan jasad sang ayah kemungkinan besar akan muncul ke permukaan setelah dua hari.

Tetapi tekad Cao-E sudah bulat untuk terus menunggu jasad sang ayah. Penantian selama tujuh hari dan tujuh malam tanpa hasil. Di tengah rasa putus asa dan penyesalan yang sangat mendalam, Cao-E menceburkan diri ke dalam sungai.

Tiga hari kemudian, jasad Cao-E dan sang ayah ditemukan pada saat dan tempat yang sama.

Apa yang dilakukan Cao-E membuat rakyat sekitar sangat terharu. Oleh sebab itu, pada setiap hari ke lima bulan ke lima Imlek, pada Perayaan Perahu Naga, mereka mendayung perahu naga yang membawa patung Cao-E demi mengenang pengorbanan yang dilakukan Cao-E.

5 thoughts on “Cao-E

  1. Pingback: Tionghoa » Perayaan Perahu Naga

  2. di dunia ini bhakti adlah yang paling mulia,seperti cao e yang mencari ayahnya tanpa henti sampai akhirnya berhasil menemukan walau dia juga harus kehilangan nyawanya sendiri.inilah wujud nyata dari prilaku berbhakti yang akan mengugah manusia dan dewa. perilaku mulia akan dikenang di sepanjang masa seperti cao e yang telah terjadi ribuan tahun yang lalu tapi tetap diingat dan dikenang sampai sekarang..so..Mari kita belajar berbhakti kepada ortu kita,menjaga,merawat,menghibur kietka mereka bersedih,,,

  3. saya sangat terharu…
    hampir saya meneteskan air mata..
    betapa berbakti dan sayangnya seorang anak kepada sang ayah
    legenda yang sangat membangun…
    thanx

  4. Cao-e bersedih atas meninggalnya ayahnya itu hal yg wajar dan baik…menunggu jasad ayahnya 7 hari juga hal baik dan patut dihargai…tapi menjadi putus asa dan menceburkan diri ke laut ikut mati bukanlah perbuatan baik dan bertanggung jawab…memangnya ayahnya yg sudah mati dan berada di surga kepengin anaknya ikut-ikutan mati seperti dia? Pengorbanan….betul ayahnya sudah berkorban Karena keganasan ombak…tapi kalo ca0-e masih hidup kelak bisa mengingatkan orang yg suka dekat ombak agar berhati-hati dan menjauhi ombak? Bukankah pengorbanan ayahnya jadi berarti…ketimbang bunuh diri??

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *