Li Mu (李牧)

Li Mu (Hanzi: 李牧, ?-229 SM) adalah jenderal terkenal pada Zaman Negara-negara Berperang yang mengabdi pada Negara Zhao. Ia berjasa mempertahankan perbatasan utara dari serbuan suku barbar Xiongnu dan ibukota Zhao, Handan dari invasi Qin. Namun sayang, hidupnya harus berakhir di tangan para pengkhianat setelah dicampakan oleh rajanya karena isu yang disebarkan mata-mata Qin. Sejarawan Dinasti Han, Sima Qian menempatkan Li sebagai salah satu dari empat jenderal terbaik Zaman Negara-negara Berperang (战国四大名将).

***

Sang penakluk Xiongnu

Tidak ada catatan yang jelas mengenai kehidupan awal Li Mu termasuk tanggal dan tempat kelahirannya. Namanya mulai dikenal pada masa pemerintahan Raja Huiwen dari Zhao (299 SM-266 SM). Ketika itu suku Xiongnu di utara mulai bertambah kuat dan mereka menjadi momok menakutkan di sepanjang perbatasan utara Tiongkok. Untuk itu Raja Huiwen mengirim Li ke Kabupaten Dai, Yanmen, Provinsi Shanxi, untuk menjaga wilayah itu dari serbuan Xiongnu. Begitu tiba disana, Li segera mempelajari situasi dan kondisi setempat, lalu menyusun strategi untuk mengatasi masalah ini. Ia mengeluarkan peraturan, ‘Bila Xiongnu menyerang, masuk ke dalam kota dan bertahan, jangan pernah keluar menyambut serangan musuh, yang melanggar akan dihukum mati.’ Pada saat yang sama ia merekrut orang-orang kuat dan melatih mereka agar menjadi pasukan yang dapat diandalkan.

Beberapa tahun ia menerapkan strategi defensif ini sambil menanti saat yang tepat sehingga Xiongnu mengejeknya sebagai pengecut, Raja Huiwen juga mulai tidak sabar dengan kinerjanya yang dianggap lamban. Maka raja pun mencabut jabatannya dan memberikannya pada orang lain. Namun jenderal baru ini bertindak gegabah sehingga ia kehilangan banyak sekali pasukan. Raja terpaksa kembali memanggil Li Mu untuk menjaga perbatasan. Li meminta agar pemerintah pusat jangan terlalu mencampuri urusan militer di perbatasan sehingga ia dapat bermanuver dengan lebih efektif. Li pun kembali ke utara, disana ia melatih pasukannya dengan lebih intensif dan menyusun persiapan-persiapan perang yang matang. Setelah segalanya siap, Li mengijinkan rakyat bekerja di luar tembok kota seolah-olah keadaan sudah tenang, hal ini dimaksudkan untuk memancing perhatian Xiongnu. Ketika orang-orang barbar itu menyerang, Li berpura-pura kalah dan mundur. Melihat musuhnya kabur, mereka mengerahkan pasukan besar untuk mengejar. Begitu masuk jebakan, pasukan penyergap Zhao menghancurkan mereka, korban di pihak Xiongnu mencapai ratusan ribu. Sejak kekalahan besar itu mereka tidak berani lagi menyerbu perbatasan selama beberapa dekade ke depan.

***

Sang penyelamat negara

Setelah menderita kekalahan besar dari Qin dalam Pertempuran Changping (260 SM), dominasi negara Zhao di daratan tengah semakin pudar. Sejak itu Zhao harus tunduk pada Qin dan wajib mengirimkan upeti setiap tahunnya. Saat itu jenderal-jenderal terbaik Zhao seperti Yue Cheng dan Lian Po telah pensiun dan melarikan diri ke negara lain karena ketidakcocokan dengan penguasa baru. Pada tahun ke-20 pemerintahan Raja Xiaocheng dari Zhao (246 SM), Li Mu dikirim ke Qin sebagai utusan untuk memelihara hubungan baik antar kedua negara. Raja Xiaocheng wafat pada tahun 245 SM dan digantikan oleh Raja Daoxiang. Raja baru ini memanggil pulang Li dan mengangkatnya sebagai komandan militer tertinggi.

Pada tahun 243 SM Li meraih kemenangan gemilang dalam perang melawan negara Yan, ia merebut Wusui (sekarang wilayah barat Kabupaten Xushui, Hebei) dan Fangcheng (sekarang wilayah selatan Kabupaten Ku’an, Hebei).

Tahun 234 SM, Yan menyerbu Zhao untuk membalas kekalahannya dulu, namun mereka berhasil dihalau, Zhao bahkan membalas serangan itu dengan menerobos hingga ibukota Yan. Pada tahun yang sama, Raja Qin, Ying Zheng (Qin Shihuang), menggunakan kesempatan ini untuk menyerang Zhao. Ia mengirim Jenderal Huan Yi memerangi Zhao dengan alasan untuk membela Yan. Huan mengalahkan Jenderal Hu Zhe dari Zhao, lalu ia merebut Wucheng dan Pingyang, sebuah pos strategis di sebelah selatan Handan. Dalam keadaan kritis itu, Raja Qian dari Zhao memanggil Li untuk mempertahankan Handan. Pada tahun 233 SM, Li meraih kemenangan gemilang dengan membebaskan Handan dari kepungan dan merebut kembali wilayah-wilayah Zhao yang jatuh ke tangan Qin. Atas jasa-jasanya, ia dianugerahi gelar Bangsawan Wu’an (武安君). Tahun-tahun berikutnya Qin terus melakukan serangan terhadap Zhao, namun Li selalu mematahkan serangan-serangan itu dan menghambat ekspansi Qin ke timur.

***

Konspirasi dan pembunuhan

Tahun 229 SM, Qin kembali mengirim pasukan menyerang Zhao, memanfaatkan kesempatan ketika Zhao sedang goyah akibat bencana gempa bumi dan kelaparan. Dengan persiapan yang lebih matang Qin menyerang Handan dari dua arah. Li bertahan dengan gigih menghadapi serbuan Qin, rakyat Handan turut membantunya dengan merobohkan rumah-rumah mereka dan menggunakan kayunya untuk dibuat senjata dan kereta perang. Qin kewalahan menghadapi pasukan Zhao yang berjuang bahu-membahu dengan rakyatnya. Dalam keadaan tidak bisa maju dan mundur itu, ahli strategi Qin, Wei Liao, mengirim mata-mata ke Zhao untuk menyogok Guo Kai, seorang pejabat kepercayaan Raja Qian yang penjilat dan mata duitan.

Setelah menerima sogokan dari Qin, Guo Kai mulai menghasut raja, ia mengatakan bahwa popularitas Li sedang pada puncaknya bahkan melebihi sang raja dan ia sedang merencanakan pemberontakan di tengah situasi kritis ini. Raja Qian termakan fitnah ini dan ia segera mengeluarkan perintah bahwa kekuasaan militer Li dicabut dan jabatannya akan digantikan oleh Zhao Cong dan Yan Qu. Li Mu menolak perintah ini karena negara sedang dalam bahaya dan kedua orang tersebut bukan orang yang pantas untuk tugas ini. Penolakan ini semakin menguatkan kecurigaan Raja Qian sehingga ia memerintahkan agar Li dihabisi. Pada suatu malam, Zhao Cong dan para pengawalnya menerobos ke dalam kemah Li dan membunuhnya. Mendengar kematian Li, Qin segera melancarkan serangan besar-besaran ke Zhao. Hanya dalam tiga bulan setelah kematian Li, negara Zhao hancur.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *