Yang Gensi (杨根思)

Yang Gensi (Hanzi: 杨根思) (1922-1950) adalah pahlawan Tiongkok dalam Perang Korea, lahir di Taixing, Provinsi Jiangsu. Pertama kali masuk militer tahun 1944. Dalam perang sipil Tiongkok beberapa kali mendapat penghargaan atas jasanya, dua kali mendapat gelar prajurit teladan. Bulan September 1950 ia mengikuti Konfrensi Nasional Pahlawan Perang yang diadakan di Beijing. Sebulan kemudian dia bergabung dengan pasukan sukarelawan Tiongkok untuk membantu Korea Utara dalam Perang Korea. Disana dia menjabat sebagai pemimpin kompi III, korps ke-172, divisi ke-58 dari tentara ke-20.

Tanggal 29 November 1950, Yang Gensi dan unitnya mempertahankan daerah Danau Changjin dari serbuan pasukan Sekutu. Mereka terkepung dan kalah jumlah dari musuh, selain itu amunisi juga hampir habis. Disaat-saat kritis itu, Yang Gensi menerjang ke arah bunker senapan mesin Amerika sambil membawa sekantong bahan peledak seberat 5 kilogram, dia menerobos ke dalam tempat itu dan meledakkan diri bersama empat puluhan tentara Amerika.
Continue reading »

Li Mu (李牧)

Li Mu (Hanzi: 李牧, ?-229 SM) adalah jenderal terkenal pada Zaman Negara-negara Berperang yang mengabdi pada Negara Zhao. Ia berjasa mempertahankan perbatasan utara dari serbuan suku barbar Xiongnu dan ibukota Zhao, Handan dari invasi Qin. Namun sayang, hidupnya harus berakhir di tangan para pengkhianat setelah dicampakan oleh rajanya karena isu yang disebarkan mata-mata Qin. Sejarawan Dinasti Han, Sima Qian menempatkan Li sebagai salah satu dari empat jenderal terbaik Zaman Negara-negara Berperang (战国四大名将).

***

Sang penakluk Xiongnu

Tidak ada catatan yang jelas mengenai kehidupan awal Li Mu termasuk tanggal dan tempat kelahirannya. Namanya mulai dikenal pada masa pemerintahan Raja Huiwen dari Zhao (299 SM-266 SM). Ketika itu suku Xiongnu di utara mulai bertambah kuat dan mereka menjadi momok menakutkan di sepanjang perbatasan utara Tiongkok. Untuk itu Raja Huiwen mengirim Li ke Kabupaten Dai, Yanmen, Provinsi Shanxi, untuk menjaga wilayah itu dari serbuan Xiongnu. Begitu tiba disana, Li segera mempelajari situasi dan kondisi setempat, lalu menyusun strategi untuk mengatasi masalah ini. Ia mengeluarkan peraturan, ‘Bila Xiongnu menyerang, masuk ke dalam kota dan bertahan, jangan pernah keluar menyambut serangan musuh, yang melanggar akan dihukum mati.’ Pada saat yang sama ia merekrut orang-orang kuat dan melatih mereka agar menjadi pasukan yang dapat diandalkan.

Continue reading »

Li Baoyu (李抱玉)

Li Baoyu (Hanzi: 李抱玉, 703-15 April 777) alias An Zhongzhang (安重璋) atau An Baoyu (安抱玉), Adipati Zhaowu dari Liang (凉昭武公), adalah seorang jenderal pada pertengahan Dinasti Tang yang terkenal karena kontribusinya dalam mempertahankan negara semasa Pemberontakan Anshi dan mempertahankan perbatasan barat dari serbuan bangsa Tufan (Tibet).

***

Latar belakang

Li terlahir dengan nama An Zhongzhang tahun 703 pada masa pemerintahan kaisar wanita Wu Zetian. Leluhurnya berasal dari Parthia (Persia) namun telah menetap di wilayah Hexi selama beberapa generasi. Kakek moyangnya, An Xinggui, adalah seorang pejabat pada awal Dinasti Tang yang membantu Li Yuan mempersatukan negara dengan mengalahkan Li Gui, salah satu rezim separatis yang berkuasa di wilayah Gansu dan sebelah barat Sungai Kuning. Keluarga An secara turun-temurun termashyur akan kemampuannya sebagai peternak kuda yang hebat. Beberapa dari mereka bermigrasi ke wilayah sekitar ibukota Chang’an (sekarang Xi’an, Shaanxi), disana mereka mempelajari literatur Tiongkok dan kawin campur dengan keluarga-keluarga lokal. An Zhongzhang yang tumbuh besar di wilayah barat adalah seorang yang mahir berkuda dan memanah. Ia masuk militer pada usia muda, ia dikenal sebagai seorang prajurit yang banyak siasat, teliti, dan berdedikasi tinggi. Pada tahun-tahun terakhir masa pemerintahan Kaisar Tang Xuanzong, An dianugerahi nama kehormatan Baoyu (yang artinya ‘dia yang memegang batu kumala’) oleh sang kaisar karena prestasinya yang menonjol. Tahun 755, Jenderal An Lushan melakukan pemberontakan di Fanyang (sekarang Beijing) dan mendeklarasikan berdirinya Kekaisaran Yan. Saat itu An Baoyu sedang menjaga kota Nanyang. An Lushan mengirim utusan ke sana dan mencoba membujuknya agar menyerah padanya, namun karena kesetiaannya pada Dinasti Tang, ia membunuh utusan itu dan rombongannya.

Continue reading »

Feng Yuxiang (冯玉祥)

Feng Yuxiang (Hanzi: 冯玉祥, 1882-1948) adalah seorang panglima perang pada masa Republik Tiongkok awal abad-20. Ia lahir di Kabupaten Chao, Provinsi Anhui (sekarang Kabupaten Chaohu) dari keluarga seorang pejabat militer Qing sehingga menghabiskan masa mudanya dalam lingkungan militer. Pada umur 16 tahun, ia menjadi tentara, disana sudah nampak potensinya sebagai seorang pekerja keras dan bermotivasi tinggi. Feng, seperti juga para perwira muda pada masa itu, tertarik dengan ide-ide revolusioner dan terlibat dalam sebuah pemberontakan militer yang menyebabkannya hampir dihukum mati atas tuduhan pengkhianatan terhadap negara. Ia kemudian bergabung dalam Pasukan Beiyang pimpinan Yuan Shikai dan masuk Kristen pada tahun 1914. Karirnya sebagai panglima perang berawal pada tahun 1916, tidak lama setelah jatuhnya pemerintahan jenderal Yuan. Ia memerintah wilayah kekuasaannya dengan sistem campuran antara budaya paternalistik Kristen, sosialisme, dan displin militer yang tegas, ia sering membawa anak buahnya masuk Kristen dan dibaptis, juga melarang mereka mengkonsumsi opium sehingga ia mendapat julukan Panglima Kristen. Pada awal 1920-an, Feng dikenal sebagai salah satu panglima dari Komplotan Zhili (dinamakan sesuai wilayah Zhili yang meliputi Beijing, Tianjin, bagian selatan Hebei, Liaoning, dan Mongolia Dalam yang menjadi basis mereka). Komplotan ini terlibat pertikaian sengit dengan Komplotan Fengtian yang dikepalai Zhang Zuolin dan dalam Perang Zhili-Fengtian I, mereka berhasil mengalahkan Komplotan Fengtian. Pada saat itu pula, Feng mulai mencondongkan halauannnya pada Uni Soviet.

Continue reading »

Zhao Dengyu (赵登禹)

Zhao Dengyu (Hanzi: 赵登禹, 1898-1937) adalah seorang pahlawan Tiongkok dalam Perang Sino-Jepang Kedua. Ia gugur dengan heroik dalam Pertempuran Beiping-Tianjin melawan Jepang. Zhao dilahirkan dalam keluarga petani miskin di Heze, Shandong. Keluarganya terlalu miskin sehingga tidak mampu menyekolahkannya. Masa mudanya dihabiskan dengan membantu orang tuanya di sawah sambil memperdalam ilmu bela diri di waktu luangnya. Tahun 1914, ketika para panglima perang Tiongkok terlibat perang saudara, Zhao bergabung dengan pasukan dibawah pimpinan Jenderal Feng Yuxiang. Tidak lama kemudian Feng menjadikannya salah satu pengawal pribadinya karena terkesan dengan ilmu bela dirinya. Dalam setiap pertempuran ia selalu membuktikan keberanian dan keperkasaannya sehingga pangkatnya pun terus naik hingga tahun 1922 ia telah menjadi komandan divisi.

Continue reading »