Kisah Kipas Bulu Bangau Zhuge Liang

Spread the love

Kisah Kipas Bulu Bangau Zhuge Liang

Zhuge Liang (诸葛亮)
(Art by Li Hao Yu)

Zhuge Liang (Traditional: 諸葛亮, Simplified: 诸葛亮) adalah ahli strategi militer dari Negara Han pada masa Tiga Negara. Beliau adalah ahli strategi yang paling cerdik dan terkenal dalam sejarah Tiongkok. Zhuge Liang sering kali dilukiskan sedang memakai sebuah jubah dan memegang kipas yang terbuat dari bulu burung bangau.

Ketika Zhuge Liang berumur 9 tahun, dia masih tidak dapat berbicara. Keluarganya sangat miskin. Ayahnya menyuruhnya menggembalakan domba di dekat sebuah bukit di sebuah gunung.

Di atas gunung ada sebuah Kuil Tao dimana tinggal seorang Tao Shi (Guru Tao) yang rambutnya sudah memutih. Setiap hari Tao Shi tersebut berjalan-jalan santai di luar kuil. Ketika ia berjumpa Zhuge Liang, Tao Shi itu mencoba berkomunikasi dengannya menggunakan isyarat tangan.

Zhuge Liang juga senang berkomunikasi dengan Tao Shi tersebut dengan isyarat tangan. Tao Shi itu menjadi sangat menyayangi Zhuge Liang yang pintar dan menawan itu. Dia mulai mengobati masalah kebisuan Zhuge Liang. Tidak lama kemudian Zhuge Liang bisa berbicara.

Zhuge Liang sangat gembira ketika akhirnya bisa berbicara. Beliau pergi mendaki menuju ke kuil Tao Shi tersebut untuk mengucapkan terima kasih. Tao Shi itu memberitahukannya, ketika kamu pulang ke rumah, katakan pada orang tuamu bahwa saya mengangkatmu sebagai murid dan saya akan mengajari kamu membaca. Saya juga akan mengajarimu seni astronomi, geografi dan menerapkan teori Ying dan Yang di dalam strategi militer. Jika orang tuamu setuju, kamu harus hadir di sekolah setiap hari dan kamu tidak boleh membolos!

Sejak saat itu, Zhuge Liang menjadi murid Tao Shi itu. Hujan atau terang, Zhuge Liang akan mendaki gunung untuk menerima pelajarannya. Zhuge Liang adalah seorang anak yang sangat cerdas dan rajin, juga sangat serius dalam pelajarannya. Zhuge Liang juga mempunyai daya ingat yang sangat tajam. Tao Shi tersebut tidak pernah harus mengajari segala sesuatunya sampai dua kali. Dengan sendirinya Tao Shi tersebut menjadi semakin menyayanginya.

Delapan tahun berlalu dengan cepatnya dan Zhuge Liang menjadi seorang remaja. Suatu hari ketika Zhuge Liang seperti biasanya turun gunung, beliau melewati sebuah biara yang telah ditinggalkan, terletak di tengah-tengah gunung. Tiba-tiba datang hembusan angin yang sangat kuat, diikuti dengan badai petir.

Zhuge Liang tiada pilihan lain selain berlari masuk ke biara yang telah ditinggalkan itu untuk menghindari badai. Di sana ada seorang wanita muda yang belum pernah dijumpai keluar untuk bertemu dengannya. Dia memiliki sepasang mata yang besar dan alis yang tipis. Dia begitu cantiknya sampai-sampai Zhuge Liang hampir salah mengiranya adalah seorang Dewi.

Dia segera menjadi tertarik dengan wanita muda tersebut. Ketika badai berhenti, wanita cantik itu menemui dia di depan pintu dan berkata padanya dengan tersenyum, Karena sekarang kita sudah saling berjumpa. Kamu bebas untuk mampir dan menikmati secangkir teh kapanpun kau ingin beristirahat dalam perjalananmu turun atau naik ke gunung. Begitu Zhuge Liang berjalan keluar dari biara itu, dia merasa curiga. Mengapa saya tidak mengetahui ada orang yang tinggal di biara ini sebelumnya pikirnya.

Sejak hari itu, Zhuge Liang mulai sering mengunjungi biara tersebut. Setiap kali wanita cantik itu selalu menghiburnya dengan ramah tamah. Dia memasak makanan yang enak untuknya dan selalu membujuknya untuk tinggal lebih lama. Setelah makan malam mereka selalu berbincang-bincang dengan seru dan bermain catur. Dibandingkan dengan kuil Tao Shi, biara tersebut bagaikan surga.

Selalu memikirkan wanita itu mengalihkan perhatiannya dari pendidikannya dan Zhuge Liang mulai kehilangan semangat untuk belajar, semakin lama semakin kurang perhatiannya terhadap ajaran dari Tao Shi. Zhuge Liang juga menjadi pelupa dan mengalami kesulitan dalam mempelajari buku pelajaran baru.

Tao Shi itu menemukan masalahnya. Suatu hari dia memanggil Zhuge Liang dan menarik napas panjang. Lebih mudah menghancurkan sebuah pohon daripada menanam sebuah pohon ujarnya. Saya telah menyia-nyiakan banyak tahun untuk kamu, Zhuge Liang menundukan kepalanya karena malu dan berkata, Shifu, saya tidak akan mengecewakan anda lagi atau menyia-nyiakan ajaran anda! Saya tidak mempercaimu, kata Tao Shi itu. Saya tahu kamu adalah seorang anak yang sangat cerdas, karena itu saya ingin mengobati penyakitmu dan memberimu sebuah pendidikan yang layak.

Delapan tahun terakhir ini kamu telah sangat dalam pendidikanmu, jadi saya berpikir bahwa kerja keras untuk mendidikmu adalah pantas. Tetapi sekarang kamu melalaikan pendidikanmu. Bagaimanapun pandainya kamu, kamu tidak dapat kemana-mana jika kamu terus-menerus seperti ini! Sekarang kamu berjanji padaku untuk tidak akan pernah lagi mengecewakan aku. Bagaimana saya dapat mempercayai kata-katamu?

Tao Shi itu melanjutkan, semua ada penyebabnya. Kemudian dia menunjuk ke sebatang pohon yang terbungkus oleh banyak tumbuhan merambat yang tebal di halaman. Lihat pohon itu, katanya. Mengapa kamu pikir pohon itu setengah hidup dan sedang berjuang dalam setiap pertumbuhannya? Tanaman merambat yang melilit pohon menghalangi pertumbuhannya! jawab Zhuge Liang.

Tepat sekali! Pohon ini mengalami kesulitan untuk tumbuh di gunung cadas dengan tanah yang sedikit ini. Tetapi dia tetap tumbuh karena dia teguh untuk mengembangkan akar dan cabangnya. Dia tidak takut udara panas maupun dingin. Tetapi, ketika tanaman merambat membungkusnya, dia tidak dapat tumbuh lebih tinggi lagi. Lucukan bagaimana tanaman merambat yang lembut itu bisa mengalahkan pohon yang tinggi dan tegap itu!

Zhuge Liang sangat cerdas, jadi dia segera memahami apa yang dimaksud oleh Shifu-nya. Dia bertanya, Shifu, anda mengetahui kunjungan saya ke biara itu? Tao Shi berkata, hidup di dekat air, seseorang akan mempelajari sifat alami ikan. Hidup di gunung, seseorang akan mempelajari bahasa burung. Saya telah mengamati kamu dan tingkah lakumu. Bagaimana mungkin hubungan asmaramu luput dari perhatianku?

Dia berhenti sebentar sebelum memberitahukan muridnya dengan tatapan yang serius, Biar kuberitahu kamu kebenaran mengenai wanita cantik itu. Dia bukan manusia. Dia adalah burung bangau Dewa di surga. Dia telah diusir keluar dari istana langit sebagai hukuman karena telah mencuri dan memakan buah persik Ratu Langit.

Dia datang ke dunia manusia dan menjelma menjadi seorang wanita cantik. Dia adalah bangau Dewa yang telah rusak moralnya yang tahunya hanya mencari kesenangan. Kamu telah terpedaya oleh penampilannya, kamu telah menyia-nyiakan tidak hanya waktumu saja. Jika kamu membiarkan dirimu kehilangan kemauanmu, kamu akan kehilangan segalanya! Selain itu, jika kamu tidak menuruti kehendaknya, akhirnya dia akan menyakitimu.

Petuah Tao Shi membuat Zhuge Liang baru menyadari keseriusan dari petualangannya. Dengan cemas dia meminta Shifu-nya cara mengatasinya.

Tao Shi itu berkata, bangau Dewa tersebut mempunyai kebiasaan pada tengah malam menjelma kembali ke bentuk semulanya dan terbang ke sungai langit untuk mandi. Ketika dia menjauhi biara, kamu harus masuk ke kamarnya dan bakar jubahnya. Dia mencuri jubah tersebut dari Istana Langit. Tanpa jubah, dia tidak akan dapat menjelma menjadi seorang wanita cantik.

Zhuge Liang berjanji untuk mengikuti instruksi Shifu-nya. Sebelum ia pergi, Shifu-nya memberikan sebuah Pedang kayu dengan ukiran kepala naga di ujung atasnya. Dia memberitahu Zhuge Liang, ketika bangau Dewa tersebut mengetahui jubahnya dibakar di dalam biara, dia akan segera terbang kembali dari sungai langit. Dia akan menyadari bahwa kamu telah membakar jubahnya dan akan menyerang kamu. Ketika itu terjadi, kau harus memukulnya dengan pedang kayu ini! Sangatlah penting untuk kau ingat dan mengerjakan apa yang telah aku beritahukan kepadamu!

Tengah malam, diam-diam Zhuge Liang pergi ke biara tersebut. Dia membuka kamar wanita itu dan menemukan jubahnya di atas ranjang. Dia segera membakar jubah tersebut. Ketika bangau Dewa sedang mandi di sungai langit, tiba-tiba dia merasa jantungnya sakit. Dia melihat ke arah biara dan melihat api.

Dia segera terbang ke bawah dan melihat Zhuge Liang telah membakar jubahnya. Dia menghampiri Zhuge Liang dan berusaha menyerang matanya dengan paruh. Zhuge Liang mempunyai reflek yang cepat mengangkat pedang kayunya dan memukul jatuh bangau Dewa. Kemudian dia menangkap ekor bangau itu. Bangau Dewa itu memberontak dan berhasil meloloskan diri, tetapi dia kehilangan bulu ekornya pada Zhuge Liang.

Dia menjadi seekor bangau dengan ekor botak. Dia menjadi malu dengan penampilannya, sehingga dia berhenti mandi di sungai langit. Dia juga tidak berani memasuki Istana Langit untuk mencuri jubah lagi, jadi dia tidak punya pilihan lain selain tetap tinggal di dunia manusia selamanya dan hidup diantara bangau biasa. Untuk mengingatkan dirinya sendiri akan pelajaran ini, Zhuge Liang menyimpan bulu ekor bangau itu.

Sejak hari itu, Zhuge Liang menjadi semakin rajin dan akan mengingat semua yang diajarkan oleh Shifu-nya dan semua buku pelajaran. Zhuge Liang benar-benar menyerap apa yang telah dipelajarinya dan dapat menerapkannya dengan mudah. Setahun telah lewat. Tepat pada hari ia membakar jubah bangau Dewa setahun yang lalu, Tao Shi itu memberitahukannya dengan sebuah senyuman lebar, Muridku, kau telah belajar dibawah pengawasanku selama sembilan tahun.

Saya telah mengajarimu semua yang harus kau pelajari dan kamu telah mempelajari semua buku pelajaran di sini. Ada sebuah pepatah, Shifu membawamu ke pintu masuk, dan terserah padamu untuk Xiu Dao (berlatih kultivasi).

Sekarang kamu berusia 18 tahun. Sudah saatnya kamu meninggalkan rumah dan mengembangkan karirmu!

Ketika Zhuge Liang mendengar bahwa ia telah menyelesaikan pendidikannya, dia memohon gurunya untuk mengajarinya lagi. Shifu! Semakin banyak saya belajar, saya merasa semakin banyak yang tidak saya ketahui. Saya merasa masih banyak yang harus saya pelajari dari Anda!

Pendidikan sejati berasal dari kehidupan nyata. Kau harus belajar menerapkan pengetahuanmu didalam kehidupan dan merancang pemecahan yang berbeda untuk situasi yang berbeda! Sebagai contoh, kau telah belajar sebuah pelajaran yang penting dari kunjunganmu dengan bangau Dewa bahwa seseorang tidak seharusnya tergoda oleh nafsu atau perasaan. Ini adalah pelajaran berguna yang diperoleh dari pengalaman nyata. Dengan hal itu didalam pikiran, kamu tidak akan dibuat binggung oleh permukaan maya dari dunia ini.

Berhati-hatilah dalam setiap tindakanmu. Kamu harus melihat segalanya dalam bentuk sejatinya. Ini adalah nasihat perpisahan saya kepadamu! Saya akan meninggalkanmu hari ini. Shifu, kemana Anda akan pergi?, dengan heran Zhuge Liang bertanya, dimana saya dapat menemuimu atau mengunjungimu di kemudian hari? Saya akan keliling dunia dan tidak akan menetap lagi.

Tiba-tiba Zhuge Liang merasakan air mata yang hangat menetes dari matanya. Dan berkata, Shifu! Sebelum anda pergi, anda harus memberikan aku kesempatan untuk bersujud kepada Anda dan berterima kasih kepada anda atas pendidikan yang anda berikan padaku! Kemudian Zhuge Liang bersujud kepada Shifu nya. Ketika dia berdiri, Tao Shi tersebut telah menghilang.

Tao Shi itu meninggalkannya sebuah jubah dengan gambar patkwa. Zhuge Liang sering memikirkan Shifu nya; karena itu, ia sering memakai jubah dengan gambar patkwa sebab memberikannya perasaan bahwa Shifu-nya berada di sampingnya. Zhuge Liang tidak pernah lupa nasihat Shifu-nya, terutama nasihat perpisahannya. Beliau membuat kipas dari bulu ekor bangau Dewa untuk mengingatkan dirinya sendiri untuk sangat berhati-hati seumur hidupnya. Ini adalah cerita dibalik kipas bulu terkenal yang dibawa oleh Zhuge Liang.


Spread the love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

14 − one =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.