Shang Yang (商鞅) : Reformis Negara Qin

Spread the love

Patung Shang Yang (商鞅)

Patung Shang Yang (商鞅)

Shang Yang (Simplified: 商鞅, Traditional: 商鞅, Pinyin: Shāng Yāng), yang dikenal juga sebagai Wei Yang (衞鞅), memiliki marga asli Gongsun, merupakan seorang ilmuwan legalis terkemuka pada Masa Negara-Negara Berperang, yang hidup antara tahun 390 – 338 SM.

Shāng Yāng adalah seorang negarawan, perdana menteri dan reformis yang melayani Negara Qin (Simplified: 秦国, Traditional: 秦國, Pinyin: Qín Guó). Kebijaksaan dan pemikirian Shāng Yāng meletakkan dasar administrasi, politik dan ekonomi yang memperkuat Negara Qin sehingga pada akhirnya memungkinkan Negara Qin untuk menaklukkan enam negara saingan lainnya dan menyatukan Tiongkok ke dalam pemerintahan terpusat untuk pertama kalinya dalam sejarah dibawah Dinasti Qin.

Shāng Yāng terlahir sebagai putra seorang selir dari keluarga penguasa negara bagian kecil Wei (衞), yang sering disebut juga Wey. Nama keluarganya adalah Gongsun dan nama pribadinya Yang. Sebagai anggota keluarga Wei, dia juga dikenal sebagai Wei Yang (衞鞅).

Pada usia muda, Shāng Yāng belajar hukum dan memperoleh posisi di bawah Perdana Menteri Shuzuo dari Wei (魏). (Penjelasan tambahan: Negara Wei (魏) ini tidak sama dengan Wei (衞) negara kelahirannya).

Dengan dukungan Adipati Xiao (秦孝公) dari Qin, Shāng Yāng meninggalkan posisinya yang rendah di Wei untuk menjadi kepala penasihat di Negara Qin.

Berbagai reformasinya mengubah negara bagian Qin menjadi kerajaan yang kuat secara militer dan sangat terpusat. Perubahan sistem hukum negara menjadi dasar bagi Negara Qin menuju kemakmuran. Meningkatkan pemerintahan melalui penekanan pada meritokrasi, kebijakannya melemahkan kekuatan tuan tanah feodal.

Pada 341 SM, Negara Qin menyerang Negara Wei. Shāng Yāng secara pribadi memimpin pasukan Qin untuk mengalahkan Wei, dan akhirnya Wei menyerahkan tanah di sebelah barat Sungai Kuning kepada Qin. Untuk jasa dan kontribusinya dalam perang tersebut, Shāng Yāng menerima 15 kota di daerah Shang sebagai wilayah pribadinya, sehingga Yang (鞅) kemudian dikenal sebagai penguasa Shang (Shang Jun) atau Shang Yang (商鞅).

Shāng Yāng dipuji oleh Han Fei (Simplified: 韩非, Tradisional: 韓非), seorang tokoh Legalis, sebagai sebagai perwujudan terbesar dari Ajaran Legalis Tiongkok, dengan penciptaan dua teori:

  1. Memperbaiki Standar (定法)
  2. Memperlakukan Orang Sebagai Satu (一民)

Dengan dasar aturan hukum dan kesetiaan kepada negara diatas keluarga, Shāng Yāng memperkenalkan dua set perubahan pada Negara Qin.

Yang pertama pada tahun 356 SM, yaitu:

  1. Buku Hukum Li Kui dijalankan, dengan tambahan penting dari aturan yang memberikan hukuman sama dengan hukuman pelaku kejahatan, bagi mereka yang menyadari atau mengetahui kejahatan tetapi tidak menginformasikan kepada pemerintah. Shang Yang (商鞅) melakukan reformasi menjadi aturan hukum yang dijalankan secara ketat dengan hukuman berat.
  2. Memberikan tanah kepada tentara berdasarkan keberhasilan militer mereka dan melucuti bangsawan yang tidak berjasa. Tentara dipisahkan menjadi dua puluh pangkat militer, yang berdasarkan prestasi pada medan perang. Reformasi militer Shang Yang (商鞅) membuat warga Qin bersedia bergabung dengan tentara dan membantu Negara Qin membangun kekuatan militer yang diperlukan untuk menyatukan Tiongkok.
  3. Karena kekurangan tenaga kerja di Qin, Shang Yang (商鞅) mendorong penggarapan tanah-tanah yang tidak berpenghuni dan tanah terlantar, dan membangun imigrasi secara sistematis. Shang Yang (商鞅) lebih menyukai pertanian daripada perdagangan mewah, meskipun tetap juga memberikan pengakuan lebih kepada para pedagang yang sangat sukses.

Shāng Yāng memperkenalkan rangkaian perubahannya yang kedua pada tahun 350 SM, yang mencakup sistem standar baru alokasi lahan dan reformasi perpajakan .

Sebagian besar reformasi Shāng Yāng diambil dari kebijakan yang dilembagakan pada berbagai tempat lain, seperti dari Wu Qi dari Negara Chu (楚), namun, reformasi Shāng Yāng lebih menyeluruh dan ekstrim daripada negara-negara lain, dan memonopoli kebijakan di tangan penguasa. Di bawah masa jabatannya, Negara Qin dengan cepat menyusul dan melampaui reformasi negara-negara lain.

Shāng Yāng memperkenalkan reformasi tanah, memprivatisasi tanah, memberi penghargaan kepada petani yang dapat menghasilkan panen yang melebihi kuota panen, memperbudak petani yang gagal memenuhi kuota, dan menggunakan subjek yang diperbudak sebagai hadiah (milik negara) bagi mereka yang memenuhi kebijakan pemerintah.

Karena kekurangan tenaga kerja pada Negara Qin dibandingkan dengan negara bagian lain pada saat itu, Shāng Yāng menjalankan kebijakan untuk meningkatkan tenaga kerja bagi Negara Qin. Saat petani Qin direkrut ke dalam militer, Shāng Yāng mendorong terjadinya perpindahan aktif petani dari negara bagian lain ke Negara Qin sebagai tenaga kerja pengganti, kebijakan ini secara bersamaan meningkatkan tenaga kerja Qin dan melemahkan tenaga kerja saingan Qin. Shāng Yāng membuat undang-undang yang memaksa warga untuk menikah di usia muda dan mengesahkan undang-undang pajak untuk mendorong membesarkan banyak anak. Shāng Yāng juga memberlakukan kebijakan untuk membebaskan narapidana yang bekerja membuka lahan terlantar untuk pertanian.

Shāng Yāng menghapuskan Hak Primogeniture. Hak Primogeniture adalah hak, menurut hukum atau adat, dari anak sulung yang sah untuk mewarisi seluruh atau sebagian besar harta peninggalan dan hak isitmewa orang tuanya dengan lebih diutamakan dibandingkan anak dan kerabat lainnya.

Shāng Yāng juga menerapkan pajak ganda bagi rumah tangga yang memiliki lebih dari satu anak yang telah menikah dan tetap hidup dalam satu rumah tangga besar, dengan tujuan untuk memecah klan besar menjadi keluarga kecil.

Untuk mengurangi pengaruh bangsawan pada pemerintahan, Shāng Yāng memindahkan ibu kota dari kota Yueyang (櫟陽) ke Xianyang (Simplified: 襄阳, Tradisional: 襄陽).

Kebijaksanaan dan reformasi Shāng Yāng menyebabkan dirinya sangat dibenci oleh kalangan bangsawan Qin.

Pada masa pemerintahan raja berikutnya, yaitu Raja Huiwen (秦惠文王), Shāng Yāng dan keluarganya mengalami tragedi pemusnahan dengan alasan pemberontakan. Pada saat pelarian Shāng Yāng bersembunyi dan pada satu kesempatan mencoba untuk tinggal pada sebuah penginapan. Namun pemilik penginapan menolak karena melanggar hukum Qin untuk menerima tamu tanpa identitas yang tepat, hukum yang telah diterapkan oleh Shāng Yāng sendiri.

Shāng Yāng dieksekusi dengan Jūliè (車裂), diikat pada lima kereta yang ditarik kuda sehingga badannya tercabik-cabik, dan seluruh keluarga Shāng Yāng juga dieksekusi.

Meskipun Shāng Yāng telah tiada, Raja Huiwen (秦惠文王) tetap menjalankan reformasi yang diberlakukan oleh Shāng Yāng.


Spread the love

Leave a Reply

Your email address will not be published.

nine − 9 =