Pengembara & Dewa Bertukar Posisi

Spread the love

Pengembara & Dewa Bertukar Posisi

Suatu hari ada pengembara masuk kedalam sebuah klenteng, dia menuju ke altar, dan berkata pada Dewa yang ada disana, apakah boleh kita bertukar posisi?

Dewa menjawab, boleh, hanya ada satu syarat, yaitu jangan sekalipun kamu buka mulut berkata-kata.

Pengembara itu lalu menyetujui, naiklah dia duduk di altar tersebut.

Lalu datanglah seorang kaya, dia sembahyang memohon agar rumah tangganya bahagia, anak-anaknya selamat, lalu berlutut sujud tiga kali, ketika itu, dompetnya terjatuh.

Pengembara itu ingin memberitahu, tetapi ingat janjinya, maka dia diam saja, orang kaya itu pun pergi tanpa tahu dompetnya jatuh.

Siang itu datang seorang yang miskin, sembahyang memohon agar diberi rejeki, dia sedang butuh uang, anaknya sakit, butuh dana berobat.

Ketika bersujud, dia melihat dompet yang penuh berisi uang, wah sungguh dewa memberi mujijat, segera dipungutnya dompet itu.

Pengembara ini ingin berkata, itu bukan mujijat Dewa, itu dompet orang yang jatuh, tetapi lagi-lagi dia ingat janjinya, tidak jadi berkata apapun, orang miskin itu pulang dengan penuh sukacita.

Tidak lama kemudian datang seorang nelayan, mohon dilindungi agar hari ini selamat berlayar dapat hasil banyak.

Waktu nelayan bersujud, datanglah orang kaya tadi, mencari dompetnya yang jatuh, ia menuduh pasti nelayan itu yang mengambil dompetnya. Dua orang ribut besar, saling maki, bahkan mulai mengancam akan membawa ke pengadilan.

Pengembara tersebut tidak tahan lagi, lalu berteriak, “Hentikan, jangan ribut lagi”. Lalu dia turun dan menceritakan kejadian sesungguhnya.

Apakah tindakan pengembara tersebut sudah benar ?

Seringkali kita merasa benar, merasa bisa memberi keadilan.

Padahal apa yang sesungguhnya akan terjadi kadang kita tidak tahu sama sekali.

Dewa tersebut langsung muncul kembali, “Lebih baik kamu kembali jadi pengembara sajalah…!”

“Apakah kamu tahu, menjaga mulut adalah proses merevisi diri yang paling tinggi? Gara-gara kamu sembarang bicara, sok pinter, tidak bisa menjaga mulut kamu.”

“Orang kaya kehilangan kesempatan untuk berbuat amal”

“Orang miskin, tidak jadi dapat rejeki, anaknya yang sakit jadi meninggal”

“Nelayan tersebut yang seharusnya bisa tertolong kalau hari ini dapat masalah dan tidak berlayar….akhirnya harus meninggal karena kapalnya tenggelam tersapu ombak”

Kadang kala, biarkan semua berjalan secara alamiah akan lebih baik.


Spread the love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

5 × three =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.