Jangan Membiarkan Nasi Membusuk

Spread the love

Jangan Membiarkan Nasi Membusuk

Qin Lung adalah seorang pengusaha yang sangat kaya di daratan Tiongkok. Usia beliau sudah 80 tahun. Dia memiliki dua putra, bernama An Chiang dan An Wei. Qin Lung meninggalkan banyak sekali harta kekayaan dan beberapa perusahaan kepada kedua putranya.

Menjelang kematiannya, Qin Lung menyampaikan nasehat yang sangat berguna kepada kedua anaknya itu.

“Anakku sayang, sudah saatnya Ayah meninggalkan dunia fana ini. Kalian jangan terlalu bersedih hati. Setelah Ayah tiada, kalian berdua akan mewarisi semua kekayaanku. Pergunakanlah kekayaan yang Ayah tinggalkan dengan bijaksana. Perbanyaklah perbuatan baik, dan selalu menolong sesama. Pelihara dengan baik barang-barang yang kalian miliki. Jangan malas bekerja, dan jangan menghambur-hamburkan untuk hal-hal yang tidak berguna. Dengan demikian, kekayaan yang kalian miliki, akan tetap terpelihara. Ketahuilah bahwa, apa yang kalian miliki sekarang ini, merupakan buah karma baik dari masa lalu. Jangan menjadi sombong dan lupa diri dengan apa yang kalian miliki, agar kalian dapat terus menikmati Nasi yang baru, dan lezat untuk kalian nikmati setiap hari. Ingat selalu bahwa, kesuksesan yang kita raih pada hari ini, bukan berarti besok kita akan tetap sukses lagi. Jangan Membiarkan Nasi Membusuk, karena nasi yang sudah membusuk, tidak dapat dinikmati lagi,” pesan Qin Lung kepada kedua anaknya.

Waktu terus berlalu. Sampai suatu ketika kedua abang adik itu berselisih paham, dan menutuskan untuk berpisah. Mereka membagi kekayaan dan perusahaan warisan peninggalan Ayahnya.

Dengan harta kekayaan yang dimiliki, An Chiang melupakan nasehat yang disampaikan Ayahnya. Ia hidup bergemilangan harta, sehingga lupa diri dan sombong. Ia selalu menghambur-hamburkan uang dengan gonta ganti pasangan hidup, dan tidak memperlakukan istrinya dengan baik.

Suatu hari, perusahaan yang dimilikinya habis terbakar, dan ia mengalami bangkrut. Ia juga ditinggalkan oleh istri dan sahabatnya. Ia meninggalkan banyak utang piutang, sehingga berurusan dengan pihak berwajib, menjalani kurungan di penjara.

Di lain pihak, An Wei selalu mengingat pesan Ayahnya. Ia menuliskan pesan terakhir Ayahnya, yang berbunyi “Jangan Membiarkan Nasi Membusuk” pada selembar kertas, dan ia gantungkan nasehat bijak Ayahnya itu di ruang depan rumahnya, sehingga ia selalu mengingat nasehat itu.

An Wei memimpin perusahaan dengan sangat baik. Ia bersikap sangat baik dan adil kepada siapa saja, terutama kepada istrinya. Ia bersikap hormat kepada yang lebih tua. Ia selalu membagikan bantuan dan sumbangan kepada anak-anak panti asuhan dan orangtua di panti jompo. Ketika ada orang meminta bantuan, ia langsung mengulurkan tangan untuk membantu, siapapun orangnya.

Ia juga meningkatkan diri merawat dan memelihara kekayaannya dengan baik dan benar. Nasehat Ayahnya yang berbunyi “Jangan Membiarkan Nasi Membusuk”, telah memberinya pedoman yang sangat berharga, dan menjadikan dirinya lebih baik dari waktu ke waktu.

Cerita diatas menggambarkan kenyataan sesungguhnya dalam hidup ini. Harta kekayaan yang kita miliki, kekuasaan, jabatan yang tinggi, kecantikan atau ketampanan, kesehatan dan kekuatan badan fisik, kecerdasan, nama baik dan popularitas yang kita miliki saat ini, semuanya merupakan hasil tabungan Karma Baik pada masa lampau.

Apabila kita hanya terus menguras tabungan Karma Baik kita, tanpa pernah menambahnya lagi, tentu saja suatu saat akan habis juga, yang diibaratkan dengan “Nasi Yang Telah Membusuk” dan tidak dapat dinikmati lagi.

Oleh karena itu, marilah kita terus menambah tabungan Kebajikan kita setiap hari, agar kita terus menikmati Nasi yang Baru dan Lezat.


Spread the love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

eighteen − 10 =