Perayaan Lentera

LenteraPerayaan Lentera kadang dikenal sebagai Shang Yuan atau Xiao Guo Nian, Tahun Baru Kecil. Dirayakan 15 hari setelah Perayaan Tahun Baru Imlek, atau pada tanggal 15 bulan satu Imlek.

Bermula pada masa pemerintahan Kaisar Wu Di dari Dinasti Han. Di istana Wu Di tinggal seorang pembantu istana bernama Yuanxiao. Yuanxiao ingin menjenguk keluarganya, namun aturan istana melarang semua pembantu meninggalkan istana.

Beruntung Yuanxiao memiliki teman seorang menteri bernama Shuo Dongfang. Dia adalah seorang yang cerdik dan menetapkan dirinya untuk membantu pembantu yang tidak berdaya itu.

Lentera DrumShuo berkata kepada kaisar bahwa Dewa Surga telah memerintahkan kepada Dewa Api untuk menghancurkan kota Changan pada tanggal 15 bulan 1 tahun Imlek. Dia berkata kepada Wu Di bahwa satu-satunya cara untuk menenangkan sang Dewa adalah dengan memberikan persembahan kembang api, membunyikan petasan dan mempertontonkan lentera-lentera berwarna merah. Untuk membuat persembahan memuaskan hati sang Dewa maka semua orang di kota harus turut ikut serta.

Dewa Api juga sangat menyukai kue nasi lengket, khususnya yang dibuat oleh Yuanxiao, yang mana dianjurkan oleh Shou agar dipersembahkan secara langsung. Beruntung, sang kaisar mempercayai kebohongan itu dan memerintahkan agar kota Changan mempersiapkan semuanya.

Pada hari yang ditentukan, penduduk kota menyalakan kembang api dan memasang lentera-lentera. Mereka bergembira ria sepanjang malam. Dan Yuanxiao mendapatkan kesempatan untuk meninggalkan istana dan mengunjungi keluarganya.

Sang Kaisar, yang sangat senang atas perayaan tersebut, memerintahkan agar perayaan yang sama dilakukan pada tahun berikutnya dan Yuanxiao diperintahkan untuk membuat kue nasi lengket.

Pada Perayaan Lentera Maka pada tanggal 15 bulan pertama tahun Imlek menjadi sebuah hari bagi perayaan besar sampai hari ini, merayakan bulan penuh pertama pada tahun yang baru dan berkumpulnya keluarga serta kehidupan yang bahagia.

Kue nasi lengket yang dimakan sampai saat ini dinamakan Yuan Xiao untuk mengingat pembantu istana tersebut.

Anda mungkin mengetahui bahwa pada beberapa lentera terdapat tulisan. Itu adalah Teka-Teki pada Lentera, juga dinamakan Singa Lentera karena menjawab teka-teki yang ada sama susahnya dengan menembak singa.

Tanyakan kepada teman-teman anda mengenai asal usul Perayaan Lentera dan Yuanxiao. Lalu perhatikan wajah mereka terkagum-kagum pada saat anda menceritakan asal-usul sebenarnya.

6 thoughts on “Perayaan Lentera

  1. Pingback: Tahun Baru Imlek 2008 (2558) « munggur 2.0

  2. Kalau di Indonesia, terkenal karena harus makan LONTONG CAP GO MEH dan lontong disini sangat dekat dengan nasi lengket. Kuahnya mirip sekali dengan opor ayam dan potongan lontong disiram kuah opor serta daging ayam yang empuk sembari ditebarkan bawang goreng diatasnya.
    Keluarga Tionghoa disini sangat berusaha menyiapkan masakan ini dan menjadikan keharusan agar bahagia untuk waktu mendatangnya.

  3. Pingback: Cap Go Meh 2560 (2009) « Notes Fantasia

  4. perayaan capgo me kalo dikota ku diadakan pesta kembang api, barong sai dan naga serta diadakan atraksi melewati api, ehm rame sekali

  5. Ketika saya masih kecil dan masa remaja, saya bersekolah di ”SD Gorontalo 4” dan SMP Tanggikiki di kota Gorontalo. Saya suka sekali menyaksikan arak-arakan CAP GO MEH. Pada hari itu patung-patung dari berbagai Dewa dan Dewi diarak keliling kota Gorontalo, ditempatkan di dalam sekian banyak pikulan atau ‘kio’ (?), dan kemudian setiap ‘kio’ (?) dihias begitu indah, dan dipikul oleh delapan orang lelaki. Biasanya empat orang di pikulan depan dan empat orang di pikulan belakang. Ketika rombongan melewati di depan rumah-rumah warga yang membakar ‘kertas uang’ (?) maka tiap ‘kio’ ini akan beramai-ramai di dorong ke arah api itu, maju dan mundur kembali sampai beberapa kali. Ketika maju biasanya mereka meneriakkan ‘pempeng iyo…”. Sudah itu mundur lagi, lantas maju lagi sambil meneriakkan ‘pempeng iyo’. Sudah pasti empat orang yg berada di depan kadang-kadang merasa terlalu berat menahan dorongan empat orang yg dibelakang itu. Nampaknya, kadang-kadang mereka yg di depan agak marah karena sambil memikul, berlari ke depan, terus didorong keras lagi dari belakang. Mereka harus menahan, sebab kalau tidak mereka akan masuk ke selokan di depan rumah itu. Dorongan terakhir sekalian melengkung ke kanan dan jalan lagi terus. Kadang kala karena sudah begitu capek dan agak emosional apalagi mereka suka berkelompok dgn mengatas namakan ‘daerah asal’ maka terjadi dorongan adu kekuatan. Yang di depan empat orang berbalik 180 derajat, saling berhadapan dan adu kekuatan dorongan 4 lawan 4. Ini yg paling seru, paling ‘excited’. Biasanya ada yg kalah dan sesudah itu mereka akan melakukan lagi berkali-kali dengan semangat perayaan. Kalau sampai terlalu ‘keras’ biasanya ada tetua yg akan menegur, soalnya mereka ‘kan sedang memikul ‘kio’ dimana ada patung dewa di dalamnya; harus dihormati.
    Saya pernah menyaksikan suatu peristiwa dimana mereka begitu ‘panas’ dan sering dorong mendorong berhadap-hadapan 4 lawan 4 orang itu; waktu itu tiba-tiba hujan keras turun. Lantas, kayaknya ada ‘suhu’ terus membakar dupa dan terus berdoa. Ia menegur agar mereka jangan terlalu ‘keras’ satu sama lain. Percaya atau tidak, hujan lebat yg diguyur dari langit itu tiba-tiba berhenti. Memang setiap tahun di kala perayaan CAP GO MEH itu adalah musim hujan. Tak tahu sekarang ini apakah masih demikian.
    Saya pikir kalau mau nonton perayaan demikian salah satunya di kota Gorontalo. Sudah pasti banyak juga atraksi yg lain seperti ‘tanci’ (?) ondel-ondel, kereta-kereta hias, dan banyak yg lain lagi. Ramai sekali.
    Terima kasih, kalau ada kekhilapan mohon dimaafkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *