Ibu Xu Xiake Mendorong Anaknya Berkelana

Xu Xiake (徐霞客) adalah seorang ahli geografi yang terkenal dengan keberanian dan kerendahan hatinya. Xu Xiake (徐霞客) hidup pada masa Dinasti Ming. Dia adalah anak kedua dari Xu Yu An (徐豫庵) dan Wang Ruren (王孺人).

Xu Xiake (徐霞客) memiliki ibu yang sangat pengertian dan mendukungnya.

Xu Xiake (徐霞客) terlahir dari keluarga terpelajar. Pada umur 3 tahun, ayahnya sudah mengajari membaca. Umur 6 tahun, Xu Xiake (徐霞客) mulai bersekolah.

Sejak kecil Xu Xiake (徐霞客) sudah menunjukkan minat yang besar terhadap tempat-tempat di seluruh pelosok negeri Tiongkok. Dia senang membaca buku-buku tentang sungai dan gunung.

Pada saat Xu Xiake (徐霞客) berusia 18 tahun, sang ayah meninggal dunia. Masa berkabung 3 tahun dijalani Xu Xiake (徐霞客), tetapi dia terus memikirkan keinginannya untuk berkelana. Namun sebagai anak yang berbakti, dia juga merisaukan siapa yang akan merawat sang ibu jika dia berkelana.

Ibu Xu Xiake (徐霞客) sangat memahami keinginan Xu Xiake (徐霞客) dan terus mendorong Xu Xiake (徐霞客) untuk mewujudkan impiannya.

“Seorang laki-laki harus memiliki cita-cita yang tinggi. Ini adalah saatnya kamu pergi dan melihat dunia,” kata sang ibu.

“Ibu masih sehat. Kamu jangan kuatir. Kumpulkan keberanian dan pergilah…”

Akhirnya Xu Xiake (徐霞客) memulai perjalanan pertamanya pada saat dia berusia 22 tahun.

Awalnya, Xu Xiake (徐霞客) melakukan perjalanan-perjalanan singkat. Dia mengunjungi Danau Taihu, Gunung Moli dan Gunung Lingyan. Xu Xiake (徐霞客) mempelajari secara cermat setiap tempat yang dikunjungi, mencatat dan membetulkan kesalahan yang dia temukan di petanya.

“Kamu pergilah lebih jauh. Jangan kuatirkan ibu,” kata sang ibu.

Xu Xiake (徐霞客) rutin berkelana dan selalu berbagi pengalaman dengan sang ibu setiap kali pulang ke rumah.

Xu Xiake (徐霞客) kemudian menikah dan memiliki seorang anak laki-laki. Pada saat anaknya berusia tiga tahun, sang istri sakit lalu meninggal dunia.

Xu Xiake (徐霞客) sangat berduka atas kepergian istri tercinta.

Sang ibu terus mendorong Xu Xiake (徐霞客) untuk berkelana, “Jangan sedih anakku. Lanjutkan perjalananmu. Ibu yang akan merawat anakmu,” kata sang ibu.

“Aku terus menerus meninggalkan ibu. Aku sudah tidak berbakti kepada ibu. Bagaimana mungkin aku bisa membebani ibu merawat anakku?”

“Jangan bodoh! Saat paling berbahagia bagi ibu adalah pada waktu melihat matamu berbinar-binar saat kamu menceritakan pengalamanmu. Jangan cemaskan ibu, pergilah.”

Ibu Xu Xiake benar-benar menunjukkan cinta seorang ibu yang tidak mementingkan diri sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *