Category Archives: Perayaan

Perayaan Populer Pada Masyarakat Tionghoa

Terdapat banyak perayaan pada masyarakat Tionghoa sepanjang tahun, dari awal tahun hingga akhir tahun. Dan tiap-tiap perayaan terkadang dirayakan dengan cara yang berbeda pada setiap komunitas.

Dibawah ini adalah perayaan-perayaan yang paling populer dirayakan masyarakat Tionghoa:

Tahun Baru Imlek

Perayaan Tahun Baru ImlekTahun Baru Imlek merupakan perayaan terpenting orang Tionghoa. Perayaan Tahun Baru Imlek dimulai di hari pertama bulan pertama (penanggalan Tionghoa) dan berakhir dengan Cap Go Meh di tanggal ke lima belas (pada saat bulan purnama). Malam tahun baru imlek dikenal sebagai Chuxi yang berarti “malam pergantian tahun”. Biasanya dirayakan dengan menyulut kembang api. Di Indonesia pada tahun 1965 hingga 1998 perayaan tahun baru Imlek dilarang dirayakan di depan umum. Dengan Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967, rezim Orde Baru di bawah pemerintahan Presiden Soeharto, melarang segala hal yang berbau Tionghoa, di antaranya Imlek.
Continue reading Perayaan Populer Pada Masyarakat Tionghoa

Festival Perayaan Duan Wu Jie (Peh Cun / Bak Cang)

Festival Perayaan Duan Wu Jie (Bak Cang)

Festival Duan Wu Jie (端午节), atau yang dikenal juga dengan sebutan Festival Twan Yang, Festival Peh Cun, atau Festival Bak Cang, adalah festival penting dalam kebudayaan Tionghoa. Festival ini dirayakan setiap tahunnya pada tanggal 5 bulan 5 penanggalan Imlek.

Perayaan Festival Duan Wu Jie banyak diketahui sebagai festival makan Bak Cang dan festival perlombaan Perahu Naga.

Asal usul festival ini adalah berasal dari kisah Qu Yuan (屈原).
Continue reading Festival Perayaan Duan Wu Jie (Peh Cun / Bak Cang)

Cao-E

Berdasarkan legenda, pada suatu tahun di hari ke lima bulan ke lima Imlek selama masa pemerintahan Kaisar An Di dari Dinasti Han Timur, terdapat seorang pria bernama Cao Ding yang sedang menikmati suara ombak.

Suara ombak sungai bagi Cao Ding jauh lebih indah dibandingkan suara dedaunan tertiup angin, juga dibandingkan kemeriahan laskar tentara yang sedang menikmati kemenangan.

Continue reading Cao-E

Memandang Bulan Hingga Tengah Malam

Legenda mengatakan bahwa pada jaman dahulu ada sebuah keluarga, keluarga Yang, yang menikahkan anak lelakinya, yang masih anak kecil, dengan Yao, anak perempuan ke enam dari keluarga Yao.

Keluarga Yang memperlakukan Yao seperti budak sejak hari pernikahan. Dari mulai mencuci, menenun, memasak dan banyak lagi. Apabila pekerjaan yang diberikan tidak dapat diselesaikan, maka perlakuan kasar akan diterima Yao.

Suatu hari pada tanggal lima belas bulan delapan Imlek, keluarga Yang memberikan 7 keranjang kapas kepada Yao untuk ditenun menjadi kain dan harus selesai pada keesokan harinya.

Continue reading Memandang Bulan Hingga Tengah Malam

Chang-E (嫦娥)

Uraian Singkat

Menurut legenda Tionghoa, pernah terdapat 10 buah matahari di bumi ini dan masing-masing matahari secara bergiliran menerangi dan memberikan kehangatan ke bumi. Tetapi suatu saat semua matahari muncul secara bersama-sama sehingga menyebabkan bumi hangus karena terlalu panas. Bumi dapat diselamatkan berkat adanya seorang pemanah pemberani bernama Hou Yi yang berhasil memanah jatuh sembilan buah matahari.

Continue reading Chang-E (嫦娥)

Menggantung Lentera Merah

Pada masa akhir Dinasti Ming, Li Zicheng (李自成), pemimpin pemberontak, bersama tentaranya sedang mempersiapkan diri untuk menguasai kota Kaifeng.

Demi mendapatkan informasi yang akurat, Li menyamar sebagai penjual beras masuk ke Kaifeng. Setelah mendapat gambaran yang jelas, maka Li menyebarkan berita untuk kalangan rakyat jelata bahwa tentara pemberontak tidak akan mengganggu setiap rumah yang menggantung lentera merah di pintu depan.

Continue reading Menggantung Lentera Merah