<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	>

<channel>
	<title>Tionghoa</title>
	<atom:link href="http://www.tionghoa.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.tionghoa.com</link>
	<description>Budaya, Tradisi dan Sejarah Tionghoa</description>
	<pubDate>Sun, 15 Jun 2008 02:56:13 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.5.1</generator>
	<language>en</language>
			<item>
		<title>Ma Chao</title>
		<link>http://www.tionghoa.com/170/ma-chao/</link>
		<comments>http://www.tionghoa.com/170/ma-chao/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 Jun 2008 02:56:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Peluit</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Tiga Negara]]></category>

		<category><![CDATA[jenderal]]></category>

		<category><![CDATA[lima harimau]]></category>

		<category><![CDATA[ma chao]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.tionghoa.com/?p=170</guid>
		<description><![CDATA[Nama Lengkap: Ma Mengqi
Lahir:  A.D. 176
Meninggal: A.D. 225
Ayah: Ma Teng
Saudara: Ma Xiu (A.D. 178), Ma Tie (A.D. 180)
Sepupu: Ma Dai (A.D. 174)
Anak Ma Teng dan sangat terlatih dalam pertempuran. Ma Chao menggerakkan tentara sang ayah untuk membalas dendam setelah Cao Cao menipu ayahnya datang ke Ibukota dan membunuhnya bersama Ma Xiu dan Ma Tie. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Nama Lengkap: Ma Mengqi<br />
Lahir:  A.D. 176<br />
Meninggal: A.D. 225<br />
Ayah: Ma Teng<br />
Saudara: Ma Xiu (A.D. 178), Ma Tie (A.D. 180)<br />
Sepupu: Ma Dai (A.D. 174)</p>
<p>Anak Ma Teng dan sangat terlatih dalam pertempuran. Ma Chao menggerakkan tentara sang ayah untuk membalas dendam setelah <a title="Cao Cao" href="http://www.tionghoa.com/121/cao-cao/">Cao Cao</a> menipu ayahnya datang ke Ibukota dan membunuhnya bersama Ma Xiu dan Ma Tie. Dengan saudara angkat ayahnya, Han Sui, mereka menyerang Changan dan berhasil menguasai dengan mudah. Setelah menggenggam Changan mereka menyerang Terusan Tong yang sangat strategis. Cao Cao memerintahkan Cao Hong dan Xu Huang memimpin 10.000 tentara untuk berjaga dan bertahan di Terusan Tong untuk 10 hari. Pada hari ke-sembilan Cao Hong tidak dapat bertahan dari tantangan dan hinaan yang diterima sehingga pergi ke medan pertempuran, tetapi berhasil dikalahkan sehingga Terusan Tong hilang dari tangan Cao Cao.</p>
<p><span id="more-170"></span></p>
<p>Cao Cao secara pribadi memimpin pasukan untuk menguasai kembali Terusan Tong dan Ma Chao mengalahkan banyak jenderal Cao Cao seperti Yu Jin dan Zhang He dengan satu tangan ketika Ma Chao mengejar Cao Cao untuk membalas dendam kematian sang ayah. Agar dapat lolos, Cao Cao memotong janggutnya dan melempar jubahnya agar tidak dapat dikenali oleh tentara Ma Chao sebelum diselamatkan oleh Cao Hong dan Xiahou Yuan. Demi memotong jalur perbekalan Ma Chao, Cao Cao memimpin tentara menyeberangi sungai namun Ma Chao sudah bersedia dan melancarkan serangan mendadak. Jika bukan karena Xu Chu, Cao Cao sudah celaka saat itu. Kemudian Ma Chao mengganggu tentara Cao Cao dan membuat mereka tidak dapat mendirikan kemah.</p>
<p>Mengetahui kesusahan menundukkan Ma Chao, Cao Cao menerima usul Jia Xu agar berpura-pura bersahabat dengan Ma Chao dan pada saat yang sama mengusahakan agar Ma Chao dan Han Sui saling bermusuhan. Perlahan namun pasti, Ma Chao dan Han Sui terkena tipu muslihat Cao Cao dan Ma Chao mengira Han Sui telah bersekutu dengan Cao Cao. Ma Chao mencoba membunuh Han Sui namun hanya berhasil memotong satu tangan. Dalam kebingungan, Cao Cao melancarkan serangan dan berhasil menang.</p>
<p>Ma Chao bersama sepupunya, Ma Dai, dan Pang De berhasil melarikan diri dan kemudian berlindung dibawah Zhang Lu. Pada saat Zhang Lu mengirim Ma Chao untuk menyelamatkan Xichuan, daerah Liu Zhang, dari serangan <a title="Liu Bei" href="http://www.tionghoa.com/120/liu-bei/">Liu Bei</a>, Ma Chao bertempur dengan <a title="Zhang Fei" href="http://www.tionghoa.com/119/zhang-fei/">Zhang Fei</a> dan kedua orang ini bertarung laksana harimau selama dua hari tanpa ada tanda-tanda siapa yang menang. Takut salah seorang dari mereka terluka, Liu Bei berkonsultasi dengan <a title="Zhuge Liang" href="http://www.tionghoa.com/117/zhuge-liang/">Zhuge Liang</a> dan Zhuge Liang setuju bahwa akan sayang disesalkan apabila jenderal tangguh dan hebat seperti Ma Chao terluka demikian pula Zhang Fei. Utusan kemudian dikirim untuk membujuk Ma Chao agar bersedia mengabdi kepada Liu Bei dan kepastian didapatkan Ma Chao untuk beralih kepada Liu Bei saat itu juga.</p>
<p>Setelah berdiri Kerajaan Shu, Ma Chao bertanggung jawab menjaga perbatasan utara dari serangan kaum barbarian dan Kerajaan Wei.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.tionghoa.com/170/ma-chao/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Lu Xun</title>
		<link>http://www.tionghoa.com/169/lu-xun/</link>
		<comments>http://www.tionghoa.com/169/lu-xun/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 Jun 2008 02:55:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Peluit</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Tiga Negara]]></category>

		<category><![CDATA[lu xun]]></category>

		<category><![CDATA[panglima perang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.tionghoa.com/?p=169</guid>
		<description><![CDATA[Nama Lengkap: Lu Boyan
Lahir: A.D. 183
Seorang terpelajar dan menantu dari Sun Ce. Lu Xun menjadi penerus Lu Su setelah ditunjuk sebagai Panglima Tertinggi dengan rekomendasi Kan Ze ketika Kerajaan Wu dalam bahaya besar karena serangan-serangan yang dilakukan Liu Bei. Banyak perwira tinggi menolak pengangkatan Lu Xun sebagai Panglima Tertinggi karena berlatar belakang pendidikan bukan militer, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Nama Lengkap: Lu Boyan<br />
Lahir: A.D. 183</p>
<p>Seorang terpelajar dan menantu dari Sun Ce. Lu Xun menjadi penerus <a title="Lu Su" href="http://www.tionghoa.com/159/lu-su/">Lu Su</a> setelah ditunjuk sebagai Panglima Tertinggi dengan rekomendasi Kan Ze ketika Kerajaan Wu dalam bahaya besar karena serangan-serangan yang dilakukan <a title="Liu Bei" href="http://www.tionghoa.com/120/liu-bei/">Liu Bei</a>. Banyak perwira tinggi menolak pengangkatan Lu Xun sebagai Panglima Tertinggi karena berlatar belakang pendidikan bukan militer, namun <a title="Sun Quan" href="http://www.tionghoa.com/122/sun-quan/">Sun Quan</a> tetap pada pendiriannya.</p>
<p><span id="more-169"></span></p>
<p>Lu Xun memerintahkan kepada semua jenderal untuk bertahan dalam posisinya masing-masing dan menghindari segala macam bentuk pertempuran. Banyak yang menganggap Lu Xun sebagai pengecut. Meskipun terdapat banyak salah pengertian dan dapat membahayakan persatuan diantara para jenderal, Lu Xun tetap melaksanakan strateginya, menanti waktu yang tepat untuk menyerang.</p>
<p>Waktu akhirnya tiba pada saat Liu Bei memindahkan tentaranya ke dalam hutan untuk menghindari panas. Ma Liang telah memperingatkan Liu Bei akan tindakan Lu Xun yang seolah-olah pengecut karena menunggu panas musim kemarau untuk melancarkan serangan dengan api. Namun Liu Bei tidak menghiraukan masukan Ma Liang dan akhirnya dapat dikalahkan.</p>
<p>Lu Xun kemudian diangkat sebagai Perdana Menteri Kerajaan Wu dan berhasil menggalang kerjasama dengan Kerajaan Shu untuk menyerang Kerajaan Wei.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.tionghoa.com/169/lu-xun/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Kaisar Zhengtong (Zhu Qizhen)</title>
		<link>http://www.tionghoa.com/165/kaisar-zhengtong-zhu-qizhen/</link>
		<comments>http://www.tionghoa.com/165/kaisar-zhengtong-zhu-qizhen/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 07 Jun 2008 15:26:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Glent</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Dinasti Ming]]></category>

		<category><![CDATA[kaisar]]></category>

		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.tionghoa.com/?p=165</guid>
		<description><![CDATA[Kaisar Zhengtong (Hanzi: 正统, 1427-1464) adalah kaisar ke-6 dari Dinasti Ming yang berkuasa tahun 1435 hingga 1449 lalu berkuasa lagi tahun 1457 hingga wafatnya tahun 1464, juga dikenal dengan nama Kaisar Tianshun (天顺), nama yang dipakai setelah restorasinya. Dia terlahir dengan nama Zhu Qizhen (朱祁镇) sebagai anak sulung dari Kaisar Xuande dan Permaisuri Sun.

***
Awal pemerintahan
Zhu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kaisar Zhengtong (Hanzi: 正统, 1427-1464) adalah kaisar ke-6 dari Dinasti Ming yang berkuasa tahun 1435 hingga 1449 lalu berkuasa lagi tahun 1457 hingga wafatnya tahun 1464, juga dikenal dengan nama Kaisar Tianshun (天顺), nama yang dipakai setelah restorasinya. Dia terlahir dengan nama Zhu Qizhen (朱祁镇) sebagai anak sulung dari Kaisar Xuande dan Permaisuri Sun.</p>
<p><span id="more-165"></span></p>
<p>***</p>
<p><strong>Awal pemerintahan</strong></p>
<p>Zhu Qizhen menjadi kaisar setelah Xuande wafat tahun 1435 dan rezimnya diberi nama Zhengtong. Saat itu dia baru berumur delapan tahun sehingga menjadikannya kaisar Ming pertama yang naik tahta dimasa kanak-kanak. Dibawah bimbingan para pejabat berpengalaman dari rezim ayahnya, kestabilan warisan rezim sebelumnya dapat dipertahankan. Namun setelah ibunya dan beberapa pejabat tua wafat, dia mulai bergantung pada kasimnya, Wang Zhen.</p>
<p>Belakangan Wang dipromosikannya sebagai penanggung jawab urusan seremonial, posisi yang disalahgunakannya begitu dia menjabat. Wang terlibat korupsi dan menyingkirkan para pejabat jujur sehingga situasi negara mulai kacau, kejayaan yang pernah dicapai pada masa pendahulunya mulai merosot pada masa pemerintahan Zhengtong.</p>
<p>***</p>
<p><strong>Insiden Tumubao</strong></p>
<p>Tahun 1449, Esen Khan, kepala suku Wala dari Mongolia memimpin tentaranya menyerang ke selatan dan menduduki kota Datong di perbatasan. Karena mengkhawatirkan properti pribadinya di Weizhou, kota kecil dekat Datong direbut musuh, Wang Zhen membujuk Zhengtong memimpin langsung 500.000 prajurit untuk menahan serangan musuh.</p>
<p>Pasukan yang dipersiapkan dengan terburu-buru itu masih belum cukup terlatih sehingga mereka mudah kelelahan dan dikalahkan di Tumubao, sebuah benteng dekat Huailai, provinsi Hebei. Ketika Zhengtong terkepung di tengah musuh dan prajuritnya berjatuhan, Jendral Fan Zhong marah dan menyalahkan Wang Zhen yang telah menjerumuskan kaisar dalam kesulitan seperti ini, dengan gadanya dia menghantam Wang Zhen hingga tewas. Kemudian Fan melakukan usaha terakhir dengan mencoba menerobos kepungan musuh dan menyelamatkan kaisar, namun usaha ini gagal. Setelah melihat Fan Zhong gugur, dia turun dari kudanya dan duduk di tanah, siap menyongsong maut, namun dia ditangkap hidup-hidup dan dibawa ke utara. Peristiwa ini dikenal dengan nama &#8220;Insiden Tumubao&#8221;</p>
<p>Penangkapannya menimbulkan kehebohan di Beijing. Kalau saja tanpa Jendral Yu Qian, Dinasti Ming mungkin sudah runtuh saat itu. Yu menyarankan agar adik kaisar, Zhu Qiyu diangkat sebagai kaisar mengisi kevakuman kuasa dan dia sendiri menahan serangan Esen Khan. Selama ditahan di Mongol Zhengtong berteman baik dengan Esen Khan yang menangkapnya, dia baru dibebaskan tahun 1450.</p>
<p>***</p>
<p><strong>Tahanan rumah dan restorasi</strong></p>
<p>Sekembalinya ke Tiongkok dia dikenai tahanan rumah oleh adiknya, Kaisar Jingtai yang ingin tetap menjadi kaisar, statusnya pun diturunkan menjadi maharaja, status yang hanya sekedar nama tanpa kuasa. Dia ditempatkan di istana selatan, pusat kota Beijing dan segala kontak ke luar dibatasi oleh Jingtai. Gelar anaknya sebagai putra mahkota pun dicabut dan dialihkan ke anak Jingtai.</p>
<p>Tahun 1457, setelah tujuh tahun menjadi tahanan rumah, Jingtai jatuh sakit karena sedih kematian calon pewarisnya. Kesempatan ini dipakai oleh Jendral Shi Heng, Mentri Xu Youzhen dan Kasim Cao Jixiang yang tidak puas dengan Jingtai menyerbu istana selatan dan membebaskan Zhengtong yang ditahan. Dia ditandu menuju istana kerajaan dan menjadi kaisar untuk kedua kalinya. Genta dan genderang dibunyikan untuk memanggil para pejabat ke hadapannya dan saat itulah restorasinya diumumkan, nama rezimnya kini diganti menjadi Tianshun.</p>
<p>Setelah kembali menjadi kaisar, dia termakan oleh fitnah yang dibuat untuk menjatuhkan Jendral Yu Qian yang dulu berjasa mempertahankan ibukota, atas perintahnya Yu Qian dihukum mati. Dia mempercayai dan memberi penghargaan pada Shi Heng dan Cao Jixiang yang membantunya merebut tahta. Namun belakangan kedua orang ini malah memimpin sebuah pemberontakan yang gagal terhadapnya.</p>
<p>Februari 1464, dia jatuh sakit dan meninggal tak lama kemudian. Putranya, Zhu Jianshen menggantikannya sebagai kaisar dengan gelar Kaisar Chenghua. Salah satu dari sedikit hal baik yang dilakukannya adalah melarang penguburan manusia hidup-hidup untuk menemani tuannya yang meninggal, mengakhiri tradisi kejam yang telah berlangsung selama berabad-abad itu.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.tionghoa.com/165/kaisar-zhengtong-zhu-qizhen/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Kaisar Jingtai (Zhu Qiyu)</title>
		<link>http://www.tionghoa.com/166/kaisar-jingtai-zhu-qiyu/</link>
		<comments>http://www.tionghoa.com/166/kaisar-jingtai-zhu-qiyu/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 07 Jun 2008 15:25:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Glent</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Dinasti Ming]]></category>

		<category><![CDATA[jingtai]]></category>

		<category><![CDATA[kaisar]]></category>

		<category><![CDATA[ming]]></category>

		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.tionghoa.com/?p=166</guid>
		<description><![CDATA[Kaisar Jingtai (Hanzi: 景泰, 1428-1457) adalah kaisar ke-7 dari Dinasti Ming yang memerintah Tiongkok pada tahun 1449 sampai 1457. Nama aslinya adalah Zhu Qiyu (朱祁钰). Ia adalah putra dari Kaisar Xuande dan adik tiri dari Kaisar Zhengtong.Tahun 1449, menyusul terjadinya Insiden Tumubao, dimana kakaknya, Kaisar Zhengtong, kalah perang dan tertawan oleh Esen Khan dari Mongol, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kaisar Jingtai (Hanzi: 景泰, 1428-1457) adalah kaisar ke-7 dari Dinasti Ming yang memerintah Tiongkok pada tahun 1449 sampai 1457. Nama aslinya adalah Zhu Qiyu (朱祁钰). Ia adalah putra dari Kaisar Xuande dan adik tiri dari Kaisar Zhengtong.Tahun 1449, menyusul terjadinya Insiden Tumubao, dimana kakaknya, Kaisar Zhengtong, kalah perang dan tertawan oleh Esen Khan dari Mongol, ibusuri atas rekomendasi para menteri mengangkatnya sebagai kaisar untuk mengisi kevakuman kuasa. Pada bulan September di tahun yang sama dia menamai rezimnya Jingtai. Setelah bertahta dia mengangkat Yu Qian, seorang menteri yang terkenal akan kejujuran dan ketegasannya, sebagai menteri perang. Yu segera memperkuat angkatan perang Ming untuk menghadapi pasukan Mongol yang terus maju hendak menduduki Beijing. Atas jasa Yu, tentara Mongol berhasil dihalau dan dipaksa untuk mengadakan negosiasi damai serta mengembalikan Zhengtong yang ditawan. Dinasti Ming pun selamat dari kehancuran.</p>
<p><span id="more-166"></span></p>
<p>Dengan bantuan Yu Qian, Jingtai memusatkan perhatiannya pada hal-hal penting. Dia memerintahkan renovasi atas Kanal Besar dan tanggul-tanggul di daerah Sungai Kuning. Hasilnya ekonomi negara bertumbuh dan negara makin kuat.</p>
<p>Tahun 1450, Zhengtong kembali ke Beijing. Para pejabat Ming bersukacita menyambut kembalinya sang kaisar itu. Namun tidak dengan Jingtai, kepada para mentrinya dia berkata dengan marah, &#8220;Dulu, saya tidak ingin menjadi kaisar, namun kalian yang memaksa; sekarang kalian juga yang menyuruh saya melepaskan tahta, mengapa ?!&#8221; Maka dia menempatkan kakaknya sebagai tahanan rumah di istana selatan untuk mencegahnya kembali merebut kuasa. Gelar putra mahkota dari putra Zhengtong dicabut dan dialihkan ke putranya sendiri, Zhu Jianji.</p>
<p>Jingtai terus memerintah hingga tahun 1457. Suatu hari putranya tiba-tiba meninggal secara misterius, diisukan karena diracun. Hal ini membuatnya sangat berduka dan jatuh sakit. Kesempatan ini dipakai oleh para menteri yang tidak senang dengannya untuk menyerbu istana selatan dan membebaskan Zhengtong dari tahanan rumah. Dalam keadaan sakit di kamarnya, dia mendengar suara lonceng dan genderang dibunyikan tanda kembalinya Zhengtong ke atas singasana. Dia lalu mengirim kasimnya untuk menyelidiki situasi. Setelah mengetahui kakaknya telah kembali bertahta, dia tidak bisa berkata apapun selain, &#8220;Bagus ! bagus ! bagus !&#8221; yang entah apa maksudnya.</p>
<p>Kini kakaknya yang balik mengenakan tahanan rumah padanya. Sebulan kemudian dia dikabarkan meninggal, sebab kematiannya tidak jelas, ada sumber yang mengatakan dia meninggal akibat kesedihannya dan ada yang mengatakan dia dibunuh atas perintah Zhengtong. Makam yang dipersiapkan untuknya dihancurkan atas perintah kakaknya dan dia tidak dimakamkan di kompleks pemakaman kaisar Ming. Dia dikuburkan bersama selir-selirnya di pinggiran barat kota Beijing dengan upacara penguburan untuk pangeran.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.tionghoa.com/166/kaisar-jingtai-zhu-qiyu/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Lu Xiufu</title>
		<link>http://www.tionghoa.com/167/lu-xiufu/</link>
		<comments>http://www.tionghoa.com/167/lu-xiufu/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 07 Jun 2008 15:24:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Glent</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Dinasti Song]]></category>

		<category><![CDATA[bunuh diri]]></category>

		<category><![CDATA[pahlawan]]></category>

		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.tionghoa.com/?p=167</guid>
		<description><![CDATA[Lu Xiufu (Hanzi: 陆秀夫, 1232-1279) adalah perdana menteri terakhir Dinasti Song Selatan. Ia dilahirkan di Chuzhou, Yancheng (sekarang Yancheng, Provinsi Jiangsu). Ia lulus ujian negara dan menjadi jinshi (gelar tertinggi sarjana kerajaan saat itu) bersama Wen Tianxiang. Oleh kerajaan Lu diberi jabatan sebagai menteri urusan ritual.

Pada tahun 1276, pasukan Mongol (Dinasti Yuan) berhasil menduduki ibukota [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Lu Xiufu (Hanzi: 陆秀夫, 1232-1279) adalah perdana menteri terakhir Dinasti Song Selatan. Ia dilahirkan di Chuzhou, Yancheng (sekarang Yancheng, Provinsi Jiangsu). Ia lulus ujian negara dan menjadi jinshi (gelar tertinggi sarjana kerajaan saat itu) bersama Wen Tianxiang. Oleh kerajaan Lu diberi jabatan sebagai menteri urusan ritual.</p>
<p><span id="more-167"></span></p>
<p>Pada tahun 1276, pasukan Mongol (Dinasti Yuan) berhasil menduduki ibukota Song Selatan, Lin&#8217;an, Kaisar Gong dari Song menyerah dan ditangkap. Lu Xiufu bersama Chen Yizhong, Zhang Shijie, dan Selir Yang melarikan diri ke selatan sambil membawa dua orang saudara Kaisar Gong, yaitu Zhao Shi dan Zhao Bing. Tahun itu juga Pangeran Zhao Shi yang baru berusia 7 tahun, diangkat sebagai kaisar dengan gelar Kaisar Song Duanzong. Duanzong memberi tugas pada Lu untuk mengepalai dewan penyusun rencana untuk melawan invasi Mongol.</p>
<p>Tahun 1278, Kaisar Duanzong yang sakit-sakitan wafat. Lu dan Zhang Shijie mendukung adik Duanzong, Zhao Bing untuk naik tahta menggantikannya sebagai Kaisar Bing dari Song. Selir Yang yang kini telah menjadi ibusuri bertindak sebagai walinya. Lu sendiri kini diangkat sebagai perdana menteri kiri (rekannya, Wen Tianxiang adalah perdana menteri kanan), bersama Zhang Shijie ia bertugas membimbing kaisar Bing yang masih bocah menjalankan roda pemerintahan.</p>
<p>Tahun 1279, Dinasti Yuan mengirim jenderal Zhang Hongfan untuk memusnahkan pusat pertahanan terakhir Dinasti Song di Yanshan (sekarang Xinhui, Provinsi Guangdong). Disanalah terjadi pertempuran laut terakhir antara kedua belah pihak yang dikenal dengan nama Pertempuran Yamen. Pasukan Song mengalami kekalahan besar karena terisolasi di laut dan kalah jumlah. Mendengar berita kekalahan ini, Kaisar Bing menangis meraung-raung. Lu yang berada disisinya saat itu tidak rela menyerah pada penjajah Mongol. Ia membawa lari kaisar bocah itu hingga ke sebuah bukit dekat pantai. Lu mengatakan pada Kaisar Bing bahwa disinilah perhentian terakhir mereka.</p>
<p>Mula-mula ia memerintahkan pada anak istrinya untuk bunuh diri terjun ke laut sebagai tanda tidak pernah menyerah pada musuh. Lalu ia berkata pada kaisar bocah itu, &#8220;Yang mulia, kakak yang mulia (Kaisar Gong) telah menerima penghinaan, yang mulia tidak boleh mengalami nasib yang sama, kini negara telah hancur, lebih baik kita memilih mati demi kehormatan negara !&#8221; Dengan berlinang air mata, Lu terjun ke laut sambil menggendong Kaisar Bing di punggungnya dan membawa stempel emas kerajaan. Dengan demikian berakhirlah 300 tahun riwayat Dinasti Song. Kini di Xinhui didirikan monumen dan kuil untuk memperingati peristiwa itu dan pahlawan-pahlawan yang gugur mempertahankan Dinasti Song. Lu bersama Zhang Shijie dan Wen Tianxiang dijuluki <em>tiga pahlawan penghujung Song</em>. (宋末三杰)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.tionghoa.com/167/lu-xiufu/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Permaisuri Dugu Qieluo</title>
		<link>http://www.tionghoa.com/168/permaisuri-dugu-qieluo/</link>
		<comments>http://www.tionghoa.com/168/permaisuri-dugu-qieluo/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 07 Jun 2008 15:21:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Glent</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Dinasti Sui]]></category>

		<category><![CDATA[permaisuri]]></category>

		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.tionghoa.com/?p=168</guid>
		<description><![CDATA[Permaisuri Dugu Qieluo (Hanzi: 独孤伽罗, 544-10 September 602) atau yang juga dikenal dengan gelar Permaisuri Xian (献皇后) adalah permaisuri pertama Dinasti Sui, Tiongkok, istri Kaisar Wen dari Sui (Yang Jian). Ia dan suaminya adalah contoh pasangan suami istri kerajaan yang ideal, keduanya telah bersumpah setia selagi muda untuk hidup saling mencintai dan menghormati satu sama [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Permaisuri Dugu Qieluo (Hanzi: 独孤伽罗, 544-10 September 602) atau yang juga dikenal dengan gelar Permaisuri Xian (献皇后) adalah permaisuri pertama Dinasti Sui, Tiongkok, istri Kaisar Wen dari Sui (Yang Jian). Ia dan suaminya adalah contoh pasangan suami istri kerajaan yang ideal, keduanya telah bersumpah setia selagi muda untuk hidup saling mencintai dan menghormati satu sama lain sampai ajal menjemput. Sejarah mencatat bahwa selama ia hidup Kaisar Wen tidak pernah memiliki seorangpun selir, sebuah hal yang langka dalam kehidupan kaisar-kaisar Tiongkok. Permaisuri Dugu juga sangat berperan dalam kebijakan-kebijakan suaminya mengelola negara. Namun sayang pada tahun-tahun terakhirnya ia mengambil keputusan yang salah dengan mencabut hak waris tahta putra sulungnya, Yang Yong dan mengalihkannya ke Yang Guang yang telah memikatnya dengan kepura-puraan. Yang Guang kelak naik tahta sebagai Kaisar Yang dari Sui yang memerintah sebagai tiran dan akhirnya membawa kehancuran bagi Dinasti Sui.</p>
<p><span id="more-168"></span></p>
<p>***</p>
<p><strong>Latar belakang</strong></p>
<p>Dugu Qieluo yang beretnis Xianbei (suku minoritas di Tiongkok utara) dilahirkan tahun 544 sebagai putri ke-7 dari Jenderal Dugu Xin dari Wei Utara. Tahun 557, tak lama setelah Dinasti Wei Utara digulingkan oleh Zhou Utara, Dugu Xin terkesan oleh perwira muda Yang Jian, putra dari bawahannya Yang Zhong sehingga ia menikahkan putrinya dengan pemuda itu. Saat itu Dugu masih berusia 13 sementara Yang Jian 16 tahun. Tak lama setelah pernikahannya, ayahnya terlibat rencana makar yang dipimpin Jenderal Zhao Gui untuk menggulingkan wali kaisar, Yuwen Hu. Kegagalan ini berakibat Dugu Xin dipaksa bunuh diri oleh Yuwen. Dugu dan Yang Jian saling mencintai satu sama lain, kepadanya Yang Jian juga bersumpah bahwa ia tidak akan pernah membiarkan anak-anak mereka jatuh ke tangan wanita lain. Hubungan mereka akhirnya melahirkan lima putra dan tiga putri. Tahun 568, Yang Zhong meninggal dan Yang Jian mewarisi gelarnya sebagai Adipati Sui dan Dugu pun secara otomatis menjadi nyonya adipati.</p>
<p>Dugu Qieluo adalah salah satu wanita paling terhormat di Kerajaan Zhou Utara. Salah satu saudara perempuannya menikah dengan Kaisar Ming dari Zhou Utara dan putrinya Yang Lihua menikah dengan Kaisar Xuan dari Zhou Utara. Sekalipun memiliki kuasa dan status terhormat, ia tetap bersikap sederhana. Pernah suatu kali, Kaisar Xuan yang emosinya tidak stabil sedang marah pada permaisurinya sampai menyuruhnya melakukan bunuh diri. Ketika mendengar kabar ini, Nyonya Dugu segera menuju ke istana dan memohon pengampunan pada sang kaisar. Kaisar pun akhirnya luluh dan mengampuni permaisurinya.</p>
<p>Tahun 580, Kaisar Xuan menyerahkan tahtanya pada Yuwen Yan, putranya yang masih muda yang naik tahta sebagai Kaisar Jing dari Zhou Utara. Ia sendiri menjadi mantan kaisar dan masih berperan di belakang putranya, namun ia meninggal mendadak tak lama setelahnya. Yang Jian mengambil alih peran sebagai wali kaisar. Ketika Yang Jian menjabat sebagai wali, Nyonya Dugu pernah berpesan padanya, &#8220;Kini kau telah menunggangi binatang buas, tidak ada jalan untuk turun lagi, yang perlu kau lakukan sekarang adalah berjuang keras agar tetap dipunggungnya.&#8221; Tahun 581, setelah Yang Jian mengalahkan Jenderal Yuchi Jiong yang menentangnya sebagai wali, ia memaksa Kaisar Jing turun tahta serta mengangkat dirinya sebagai kaisar. Dengan demikian Dinasti Zhou Utara telah tamat riwayatnya, Yang Jian mendeklarasikan berdirinya Dinasti Sui dengan dirinya sebagai kaisar pertama dengan gelar Kaisar Wen dari Sui. Ia mengangkat Nyonya Dugu sebagai permaisurinya dan putra sulungnya, Yang Yong, sebagai putra mahkota, putra-putrinya yang lain pun juga mendapat gelar pangeran dan putri.</p>
<p>***</p>
<p><strong>Awal pemerintahan Kaisar Wen</strong></p>
<p>Sebagai seorang wanita yang terpelajar, Permaisuri Dugu sering terlibat diskusi mengenai masalah negara dengan suaminya. Suaminya sangat menghormati dan menyayanginya sehingga keduanya dijuluki Sepasang Orang Suci oleh para menterinya. Tidak jarang ia menghadiri rapat-rapat kenegaraan mendampingi suaminya hingga rapat berakhir, kalaupun tidak hadir ia akan menyuruh kasim untuk menggantikannya mendengarkan rapat. Setiap kali suaminya membuat keputusan yang salah, ia akan menasehatinya untuk memperbaiki. Pengalamannya kehilangan orang tua di usia muda, membuatnya terharu bila melihat pejabat yang masih memiliki kedua orang tuanya, setiap kali berpapasan dengan orang tua pejabatnya ia tidak segan-segan memberi hormat pada mereka. Ia menolak pandangan seorang pejabat yang mengatakan bahwa menurut peraturan pada masa Dinasti Zhou pernikahan pejabat harus mendapat persetujuan dari permaisuri, menurutnya tidak sepantasnya ia terlalu banyak campur tangan dalam masalah ini. Sebagai wanita nomor satu di Tiongkok, Permaisuri Dugu masih mempertahankan sikap sederhananya, pernah suatu kali ketika Kaisar Wen membutuhkan bubuk lada sebagai salah satu bahan untuk obat mencretnya. Saat itu bubuk lada adalah bahan rempah yang harganya sangat mahal bahkan kadang bisa melebihi emas, hanya permaisuri dan kalangan atas yang biasa memakainya. Ketika kaisar meminta lada dari Permaisuri Dugu ternyata ia tidak memilikinya dengan alasan harganya yang terlalu mahal. Juga ketika kaisar hendak memberi hadiah pada istri pejabatnya, Liu Song, berupa gaun berhias emas, Permaisuri Dugu tidak mempunyai apapun yang bisa ia berikan. Ketika sepupunya, Cui Changren, terlibat tindakan kriminal dan dijatuhi vonis mati, kaisar mempertimbangkan untuk mengampuni Cui atas dasar hubungan keluarga. Namun Permaisuri Dugu menolak, ia mengatakan bahwa tidak etis seseorang yang melanggar hukum dibebaskan hanya karena hubungan keluarga dengan penguasa, maka Cui pun akhirnya dihukum mati. Ia sangat menaruh hormat pada pejabat Gao Jiong, putra Gao Bin yang dulu pernah menjadi staff ayahnya, Gao menjadi seorang penasehat yang dipercaya olehnya. Namun ia mempunyai hubungan buruk dengan adik iparnya, Putri Shunyang (putri dari Yuwen Tai, ayah dari tiga kaisar pertama Zhou Utara), istri dari adik suaminya, Yang Zan, Pangeran Teng. Ketika Putri Shunyang terbukti mengguna-gunainya, Kaisar Wen memerintahkan adiknya untuk menceraikan wanita itu, namun Yang Zan menolak. Kematian Yang Zan pada tahun 591 diduga karena diracun oleh Kaisar Wen.</p>
<p>***</p>
<p><strong>Akhir pemerintahan Kaisar Wen</strong></p>
<p>Tahun 595, pembangunan istana musim panas Renshou di Baoji, Shaanxi, selesai di bawah pimpinan Jenderal Yang Su. Kaisar Wen yang mempertahankan pola hidup sederhana ketika melihat kemewahan istana itu merasa tidak senang, dengan marah ia berkata, &#8220;Yang Su telah menghambur-hamburkan sumber daya untuk membangun istana ini, rakyat akan memandang rendah padaku&#8221; Tak lama kemudian Permaisuri Dugu juga tiba di istana itu, ia menasehati suaminya agar turun emosinya dan menghibur Yang Su yang telah dimarahinya. Ia lalu memanggil Yang Su menghadapnya di istana, katanya, &#8220;Anda memahami bahwa kami pasangan tua ini hanya memiliki sedikit yang bisa dinikmati sehingga anda menghias istana ini sedemikian indahnya, tapi bukankah ada cara lain selain ini yang bisa menunjukkan kesetiaan dan bakti anda?&#8221; Ia lalu menghadiahi Yang dengan sejumlah uang dan sutra.</p>
<p>Tahun 598, Permaisuri Dugu dan adik tirinya, Dugu Tuo, terlibat skandal misterius. Istri Dugu Tuo, Nyonya Yang (saudara perempuan Yang Su) memiliki seorang pelayan wanita bernama Xu Ani yang menyembah siluman kucing dan konon katanya ia mampu memerintahkan roh kucing itu membunuh seseorang yang diinginkannya. Permaisuri Dugu dan istri Yang Su, Nyonya Zheng, jatuh sakit dalam waktu bersamaan, diduga ini adalah ulah siluman kucing. Kaisar mencurigai Dugu Tuo dan memerintahkan Gao Jiong menyelidikinya. Setelah menyelidiki, Gao melaporkan bahwa memang Dugu Tuo lah dalang di balik semua ini. Kaisar murka lalu memerintahkan Dugu Tuo dan istrinya melakukan bunuh diri, namun Permaisuri Dugu malah melakukan mogok makan selama tiga hari untuk memohon pengampunan bagi mereka, katanya, &#8220;Bila Tuo mencelakai rakyat, aku tidak akan berkata apapun untuk membelanya, namun kericuhan ini adalah karena diriku, maka kumohon anda mengampuni nyawanya.&#8221; Adik Dugu Tuo, Dugu Zheng juga ikut memohon dengan tulus sehingga kaisar pun tersentuh. Ia meringankan hukuman mereka, Dugu Tuo diturunkan statusnya menjadi rakyat biasa dan istrinya dipaksa masuk biara dan menjadi biksuni.</p>
<p>Secara keseluruhan hubungan pernikahan Permaisuri Dugu dan suaminya cukup harmonis, namun ada satu noda yang sempat hampir mengganggu keharmonisan itu. Suatu ketika Kaisar Wen pernah terpikat oleh kecantikan cucu perempuan almarhum Jenderal Yuchi Jiong yang dijadikan budak setelah kakeknya dihukum mati dulu sehingga dengan khilaf ia terlibat hubungan seks dengan wanita itu. Ketika perselingkuhan ini diketahui oleh Permaisuri Dugu, ia murka dan membunuh wanita itu. Kaisar Wen yang marah kabur dari istana dan menolak untuk kembali, Gao dan Yang Su mengejar dan membujuknya untuk kembali. Gao berkata, &#8220;Yang Mulia, bagaimana anda bisa mengabaikan masalah negara hanya karena seorang wanita?&#8221; Mereka akhirnya berhasil membujuk kaisar. Lewat tengah malam kaisar tiba di istana, Permaisuri Dugu dengan sabar menunggunya, ia lalu menangis dan meminta maaf. Gao dan Yang mengadakan sebuah pesta untuk merayakannya, keduanya pun kembali akur. Pada tahun-tahun terakhirnya, hubungan Permaisuri Dugu dengan Gao, yang sebelumnya sangat ia hormati, mulai renggang akibat Gao secara tidak sengaja menyebutnya ‘hanya seorang wanita.&#8217; Ia semakin tidak senang pada Gao yang dianggapnya munafik setelah seorang selir Gao melahirkan baginya seorang putra, padahal tidak lama sebelumnya ketika istri Gao meninggal, ia menyarankan pada suaminya untuk mencarikan Gao istri baru, namun Gao menolak dengan alasan sudah tua dan gairah seks pun sudah turun. Ia mengatakan pada suaminya bahwa Gao tidak bisa dipercaya sehingga kaisar pun mulai menjaga jarak dengan Gao. Tahun 598, Gao yang diperintahkan membantu Yang Liang, Pangeran Han, untuk menginvasi Kerajaan Goguryeo, Korea kembali ke Tiongkok dengan kekalahan tragis. Dari awal Gao sudah menentang invasi ini, namun kaisar tetap memaksanya pergi ke Korea. Ketika ia kembali, Permaisuri Dugu mempersalahkan Gao setelah Yang Liang mengadu bahwa selama di Korea, Gao sering tidak mematuhi perintahnya.</p>
<p>Orang lain yang membuatnya marah adalah Yang Yong, putra sulungnya sendiri yang calon pewaris tahta. Yang Yong telah dinikahkan oleh orangtuanya dengan Putri Yuan, anak perempuan Yuan Xiaoju, seorang bangsawan terhormat dari keluarga Dinasti Wei Utara. Namun Yang Yong bersikap dingin pada istrinya itu, ia malah mengumpulkan banyak selir, salah satunya yang disayangi adalah Selir Yun, sedangkan dari Putri Yuan sendiri ia tidak memperoleh seorang anak pun. Ketika Putri Yuan tiba-tiba meninggal tahun 591 karena sakit, Permaisuri Dugu mencurigai Yang Yong dan Selir Yun yang meracuninya sehingga ia memarahinya. Sementara itu, putra keduanya, Yang Guang, Pangeran Jin, yang diam-diam mengincar tahta dan ingin menjatuhkan kakaknya, bersikap manis di hadapan orang tuanya, ia hidup dalam kesederhanaan sehingga membuat ayahnya senang dan tidak memiliki wanita lain selain istrinya sendiri, Putri Xiao sehingga membuat ibunya senang. Tahun 599, Permaisuri Dugu dan suaminya mempertimbangkan untuk menggantikan Yang Yong dengan Yang Guang sebagai putra mahkota. Ketika Permaisuri Dugu menemui Gao untuk meminta pendapatnya, Gao menyatakan dengan tegas bahwa putra mahkota tidak seharusnya diganti. Maka pada tahun itu juga Permaisuri Dugu membujuk suaminya untuk menyingkirkan Gao. Gao pun akhirnya didakwa telah melakukan tindakan kriminal, ia dipecat dari semua jabatannya, dan diturunkan statusnya menjadi rakyat biasa.</p>
<p>Yang Guang terus memprovokasi Permaisuri Dugu, ia menfitnah Yang Yong akan menghabisinya suatu hari kelak. Yang Guang berkomplot dengan Yang Su, yang tidak disukai Yang Yong, untuk menjatuhkannya. Permaisuri Dugu yang termakan hasutan putranya turut meminta Yang Su ikut berbicara di depan kaisar untuk mendepak Yang Yong. Yang Guang juga melakukan pendekatan pada Ji Wei, seorang sekutu Yang Yong, memintanya menjadi saksi palsu bahwa Yang Yong berencana melakukan makar. Kaisar memerintahkan Yang Su melakukan penyelidikan atas kasus ini, dalam penyelidikan Yang Su membuat bukti-bukti palsu yang memberatkan Yang Yong hingga akhirnya tahun 600 kaisar mencabut status putra mahkota Yang Yong dan menjadikannya tahanan rumah serta mengangkat Yang Guang sebagai penggantinya.</p>
<p>Permaisuri Dugu menghembuskan nafas terakhir pada tahun 602 di Istana Yong&#8217;an. Kematiannya menjadi pukulan yang sangat berat bagi Kaisar Wen. Seorang pejabat penjilat bernama Wang Shao mencoba menghibur kaisar dengan mengirim petisi yang mengatakan bahwa berdasarkan ramalan Permaisuri Dugu sesungguhnya adalah Bodhisattva.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.tionghoa.com/168/permaisuri-dugu-qieluo/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Bab 1 Bagian 2: Bersama Menghancurkan Pemberontak</title>
		<link>http://www.tionghoa.com/164/bersama-menghancurkan-pemberontak/</link>
		<comments>http://www.tionghoa.com/164/bersama-menghancurkan-pemberontak/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 23 Apr 2008 12:24:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kichigai</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Tiga Negara]]></category>

		<category><![CDATA[cao cao]]></category>

		<category><![CDATA[guan yu]]></category>

		<category><![CDATA[liu bei]]></category>

		<category><![CDATA[pemberontak]]></category>

		<category><![CDATA[zhang fei]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.tionghoa.com/?p=164</guid>
		<description><![CDATA[Setelah bersumpah menjadi saudara dan berhasil merekrut pasukan pertamanya pada keseokan harinya 3 saudara itu mulai mempersiapkan diri mereka semua untuk maju kemedan perang melawan para pemeberontak.
Setelah senjata dikumpulkan dan dibagi-bagikan mereka sadar bahwa mereka tidak memiliki kuda seekorpun. Tetapi mereka di gembirkan oleh kabar bahwa ada seorang pedangang kuda yang barus memasuki kota.
&#8220;Langit membantu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Setelah bersumpah menjadi saudara dan berhasil merekrut pasukan pertamanya pada keseokan harinya 3 saudara itu mulai mempersiapkan diri mereka semua untuk maju kemedan perang melawan para pemeberontak.</p>
<p>Setelah senjata dikumpulkan dan dibagi-bagikan mereka sadar bahwa mereka tidak memiliki kuda seekorpun. Tetapi mereka di gembirkan oleh kabar bahwa ada seorang pedangang kuda yang barus memasuki kota.</p>
<p>&#8220;Langit membantu kita&#8221;, kata <a href="http://www.tionghoa.com/120/liu-bei/">Liu Bei</a>.</p>
<p>3 saudara tersebut menyambut sang pedangang kuda tadi. Mereka adalah Zhang Shi Ping dan Su Shuang dari ZhongShan. Mereka pergi kedaerah utara setiap tahunnya untuk membeli kuda. Mereka sekarang sedang dalam perjalanan pulang karena adanya pemberontakan dimana-mana. 3 saudara itu mengundang mereka pergi ke tanah pertanian Zhang Fei dan menjamu mereka dengan arak. Liu Bei lalu menceritakan rencana mereka untuk berjuang mengembalikan kedamaian bagi rakyat. Kedua pedagang itu sangat bersimpati dan akhirnya memberikan 50 kuda, 500 ons emas dan perak, 1500 pon besi baja untuk dibuat senjata.</p>
<p><span id="more-164"></span></p>
<p>3 saudara itu sangat berterima kasih dan kemudian saudagar kaya itu meninggalkan mereka. Kemudian Liu Bei mencari seorang pandai besi untuk membuat senjata, Liu Bei membuat pedang kembar yang disebut &#8220;<b>Shuang Jian</b>&#8220;, <a href="http://www.tionghoa.com/118/guan-yu/">Guan Yu</a> membuat sebuah tombak besar dengan ujung yang melengkung dan berukiran naga hijau di sisinya dengan berat 100 pon yang disebut &#8220;<b>Qing Long Yan Yue Tao</b>&#8221; dan <a href="http://www.tionghoa.com/119/zhang-fei/">Zhang Fei</a> membuat sebuah tombak dengan ujung seperti lekukan ular dan panjang 10 kaki disebut &#8220;<b>She Mao</b>&#8220;.</p>
<p>Dan mereka pun juga dilengkapi dengan baju besi dan helm. Ketika senjata sudah siap, pasukan yang kini berjumlah 500 orang tentara bergerak menuju tempat Komandan Zhou Jing yang membawa mereka kepada gubernur Liu Yan. Ketika Prosesi upacara selesai, Liu Bei memperkenal Diri pada Liu Yan dan Liu Yan memperlakukan Liu Bei dengan hormat karena didasarkan pada silsilah Liu Bei.</p>
<p>Tidak lama sebelumnya diberitakan bahwa pasukan pemberontak jubah kuning di bawah pimpinan Cheng Yuan Zi telah menyerang daerah sekitarnya dengan pasukan berkekuatan 15.000 orang. Liu Yan dan Zhou Jing memerintahkan Liu Bei dan saudaranya untuk menghadapi pasukan pemberontak. Liu Bei dengan senang hati menerima perintah itu dan langsung mempersiapkan pasukannya untuk pergi menuju bukit Da Xing. Di sana mereka bertemu dengan pasukan pemberontak jubah kuning. Liu Bei langsung menerjang maju, diikuti dengan Guan Yu Di kirinya dan Zhang Fei di kanannya.</p>
<p>Sambil melaju mendekati pasukan musuh Liu Bei berteriak &#8220;Hai, Pemberontak, mengapa kau tidak turun dari kudamu dan menyerahlah !!!&#8221; Pimpinan pasukan pemberontak Cheng Yuan Zi mendengar ejekan Liu Bei langsung mengirimkan salah satu jendralnya Deng Mao untuk bertarung. Ketika Deng Mao maju mendekati Liu Bei, Zhang Fei langsung memacu kudanya berada didepan Liu Bei, hanya dengan sekali hunusan Tombak Zhang Fei langsung merobohkan Deng Mao. Cheng Yuan Zi yang melihat hal ini langsung mengambil senjatanya dan memacu kudanya mendekati Zhang Fei. Kali Ini Guan Yu yang menghadang, Guan Yu langsung mennebaskan Goloknya dan seketika itu juga tubuh Cheng Yuan Zi terbelah menjadi<br />
dua.</p>
<p>Karena pemimpinnya sudah tewas maka pasukan pemberontak langsung lari kocar-kacir dan meninggalkan persenjataan mereka. Tentara pemerintah langsung mengejar mereka, banyak yang berhasil ditangkap dan akhirnya perang hari itu dimenangkan oleh pasukan kerajaan.</p>
<p>Ketika mereka semua kembali, Liu Yan langsung menyambut mereka dan membagikan hadiah. Tapi keesokan harinya datang surat dari gubernur Gong Jing dari wilayah JingZhou yang menginformasikan kota mereka sedang dikepung oleh tentara pemberontak dan kota sudah hampir jatuh. Mereka membutuhkan bantuan segera.</p>
<p>Liu Bei begitu mendengar kabar ini langsung memutuskan untuk berangkat membantu. Liu Bei langsung berangkat keesokan paginya dengan tentaranya dan dibantu dengan 5000 tentara kerajaan dibawah pimpinan jendral Zhou Jing. Tentara pemberontak begitu melihat ada bantuan yang datang langsung membagi pasukannya, 1/2 menghadapi pasukan Liu Bei dan Zhou Jing. Pasukan Liu Bei tidak dapat menembus pertahanan pasukan pemberontak akhirnya memutuskan mundur sejauh 10 Km. Liu Bei<br />
lalu berkata &#8220;Kita sedikit dan mereka terlalu banyak, mereka hanya dapat kita kalahkan dengan strategi yang jitu.&#8221;</p>
<p>Akhirnya direncanakanlah serangan mendadak, Di jalan menuju kota Liu Bei memerintahkan Guan Yu untuk bersembunyi di sebelah kanan dan Zhang Fei di sebelah kiri, sedangkan Liu Bei memimpin pasukan utama. Ketika persiapan telah selesai lalu Liu Bei maju mendekati pasukan pemberontak, dan ketika pasukan pemberontak juga bergerak maju tiba-tiba Liu Bei membunyikan gong tanda mundur. Pasukan Pemberontak yang mengira pasukan Liu Bei takut lalu langsung mengejar pasukan Liu Bei hingga masuk kedalam jalan setapak. Gong lalu dibunyikan tanda pasukan Guan Yu dan Zhang Fei menyerang sekarang. Lalu pasukan pemberontak terjebak dari 3 sisi dan mereka mengalami korban jiwa yang banyak. Mendengar kabar bahwa teman-teman mereka diserang secara tiba-tiba, pasukan pemberontak yang lain datang membantu dan mengakibatkan pengepungan terhadap kota jadi melemah, melihat hal ini gubernur Gong Jing langsung memimpin pasukan yang tersisa berjumlah 3000 orang langsung menyerbu keluar benteng. Tentara pemberontak yang kebingungan akhirnya dapat dihancurkan dan mereka banyak yang terbunuh.</p>
<p>Setelah perayaan kemenangan Komandan Zhou Jing memohon diri untuk kembali ke Yizhou. Tapi Liu Bei berkata &#8220;Kami dengar komandan Lu Zhi sedang berjuang melawan serang pemberontak yang dipimpin Zhang Yue di GuangZong. Lu Zhi adalah guruku dan aku ingin membantunya.&#8221;</p>
<p>Akhirnya Zhou Jing dan Liu Bei berpisah, dan 3 bersaudara itu akhirnya pergi ke GuangZong dengan tentara mereka. Mereka akhirnya berhasil sampai keperkemahan tentara Lu Zhi dan mereka diterima disana dengan baik.</p>
<p>Pada saat itu bala tentara Zhang Yue berjumlah 150.000 orang sedangkan tentara Lu Zhi berjumlah 15.000 orang. Setiap hari terjadi pertempuran kecil tetapi tidak ada yang dapat mengalahkan satu sama lain.</p>
<p>Lu Zhi berkata pada Liu Bei, &#8220;Aku dapat mengepung pemberontak itu disini, tetapi Zhang Ba dan Zhang Lian menekan Huangfu Song dan Zhu Jun di YiChuan. Aku akan memberimu 1000 tentara untuk melihat keadaan mereka dan setelah itu baru kita pikirkan rencana penyerangan kita.&#8221;</p>
<p>Akhirnya Liu Bei berangkat secepatnya menuju YiChuan, Pada saat ini tentara kerajaan berhasil memukul mundur pemberontak hingga ke Chang Se dan mereka berkemah di lapangan rumput.</p>
<p>Melihat hal ini Huangfu Song berkata kepada Zhu Jun &#8221; Tentara pemberontak berkemah di rerumputan, kita dapat menyerang mereka dengan api.&#8221;</p>
<p>Akhirnya tentara kerajaan diperintahkan untuk mengambil rumput kering, dan rumput-rumput itu dikumpulkan lalu disirami minyak. Rumput-rumput itu diletakan di sekeliling daerah perkemahan tentara pemberontak. Ketika malam tiba, angin tiba-tiba berhembus menuju arah kamp pemberontak. Ketika melihat hal ini, maka Huangfu Song dan Zhu Jun langsung memerintahkan penyerangan, seketika itu api berkobar menutupi perkemahan tentara pemberontak. Tentara pemberontak kebingungan dan kebanyakan mati mengenaskan karena terbakar. Tidak ada waktu lagi untuk memakai baju zirah dan menaiki kuda, mereka semua berserakan ke segala arah.</p>
<p>Pertempuran berlangsung hingga fajar menyingsing, Zhang Ba dan Zhang Lian beserta sekelompok kecil pemberontak berhasil melarikan diri. Tetapi tiba-tiba di hadapan mereka muncul sekelompok tentara dengan bendera berwarna merah. Pemimpin mereka berukuran tubuh sedang, dengan mata yang kecil dan janggut yang panjang. Dia adalah <a href="http://www.tionghoa.com/121/cao-cao/">Cao-Cao</a> dari Bei Juo, dia berpangkat jendral pasukan berkuda kerajaan. Ayahnya adalah Cao Song, tapi bukanlah benar-benar keturunan keluarga Cao. Cao Song terlahir dengan marga XiaoHou, tetapi dia telah diangkat anak oleh Kasim Cao Teng dan merubah marganya.</p>
<p>Sebagai seorang pemuda Cao-cao menggemari berburu, musik dan tarian. Dia sangat berbakat dan penuh dengan akal. Seorang pamannya sering melihat Cao-cao ini sangat labil, terkadang marah kepadanya dan melaporkan perilaku buruknya kepada orang tua Cao-cao. Ayahnya lalu memarahi Cao-cao.</p>
<p>Tetapi Cao-cao membalasnya, Suatu hari ketika Cao-cao melihat pamannya datang, maka dia tiba-tiba pura terjatuh dan kesakitan. Sang Paman lalu lari dan mengatakan pada ayahnya yang akhirnya datang melihat, tetapi ketika ayahnya datang Cao-cao baik-baik saja. &#8220;Tetapi pamanmu berkata bahwa kau terluka, apakah kamu baik-baik saja ?&#8221;, Kata ayahnya.</p>
<p>&#8220;Aku tidak pernah mengalami luka apapun,&#8221; kata Cao-cao, &#8221; tetapi aku telah kehilangan kepecayaan pamanku dan dia hanya menipumu.&#8221;. Setelah itu apapun yang pamannya katakan mengenai kesalahan Cao-cao, ayahnya tidak pernah mendengarkannya lagi. Akhirnya Cao-cao tumbuh dewasa dengan seenaknya dan tidak terkontrol.</p>
<p>Seorang pria pada saat itu bernama Qiao Xuan berkata pada Cao-cao, &#8220;Pemberontakan sudah didepan mata, dan hanya orang dengan kemampuan terhebat yang dapat membawa perdamaian kembali muncul, dan orang itu adalah kau.&#8221; dan He Yong dari NanYang berkata kepadanya &#8220;Dinasti Han sedang mengalami keruntuhan, orang yang dapat mengembalikan kedamaian adalah dia dan hanya dia.&#8221; Cao-cao pergi ke Runan untuk menanyakan mengenai masa depannnya pada orang benama Xu Shao. &#8220;Orang Seperti Apakah aku ini ?&#8221; tanya Cao-cao.</p>
<p>Peramal itu tidak berkata apa, lagi dan lagi Caocao menanyakan hal itu. lalu Xu Shou menjawab &#8220;Dalam masa damai kamu adalah orang berguna, dalam masa kekacauan kamu adalah pahlawan yang hebat.&#8221;</p>
<p>Cao-cao sangat senang mendengar jawaban ini.</p>
<p>Cao-cao lulus dari akademi militer pada umur 20 tahun dan mendapatkan reputasi sebagai orang yang berintegritas. Dia memulai karir sebagai kepala komandan disebuah distrik di ibukota. Di keempat gerbang ibu kota dia menaruh gada dengan berbagai bentuk dan dia akan menghukum orang yang melanggar hukum apapun pangkat orang itu. Seorang paman dari kasim Jian Shuo ditemukan membawa pedang dijalanan pada malam hari dan itu merupakan pelanggaran. Karena itu pula maka ia dihukum dengan dipukul menggunakan gada itu. Setelah itu tidak ada seorangpun yang berani melanggar aturan lagi. Nama cao-cao akhirnya menjadi terkenal dan dia diangkat menjadi kepala pengadilan di DunQiu.</p>
<p>Ketika pemberontakan Jubah Kuning dimulai, Cao-cao berpangkat jendral dan kepadanya diberikan 5000 pasukan berkuda dan infantri untuk bertempur di Yingchuan. Dia kebetulan bertemu dengan sisa2x pemberontak. Ribuan tewas dan banyak sekali kuda, drum, senjata, bendera yang berhasil direbut berikut jumlah uang yang sangat besar. Tetapi Zhang Ba dan Zhang Liang berhasil melarikan diri. Dan setelah bertemu dengan Huangfu Song, Cao-cao mengejar sisa pemberontak yang melarikan diri.</p>
<p>Sementara itu Liu Bei dan saudaranya sedang berkuda menuju YingChuan ketika mereka mendengar bunyi pertempuran dan melihat api di angkasa. Tetapi mereka terlambat datang ke pertempuran. Mereka melihat HuangFu Song dan Zhu Jun dan kepada mereka Liu Bei menjelaskan maksud kedatangannya.</p>
<p>&#8220;Kekuatan pemberontak telah hancur di sini&#8221; kata jendral itu, &#8220;Tetapi mereka pasti akan pergi ke GuanZong untuk bergabung dengan Zhang Jue. Kamu tidak dapat melakukan apapun disini, lebih baik kamu cepat kembali ke GuanZong&#8221;. Liu Bei akhirnya memimpin pasukannya kembali ke GuanZong, Di tengah perjalanan mereka melihat pasukan istana sedang mengawal tawanan dalam kereta. Ketika mereka mendekat, mereka melihat bahwa tahanan tersebut adalah Lu Zhi, jendral yang akan mereka tolong. Dengan cepat Liu Bei turun dari kudanya dan bertanya apa yang terjadi.</p>
<p>Lu Zhi Bercerita &#8220;Aku telah mengepung tentara pemberontak dan dalam posisi siap menghancurkan mereka, ketika Zhang Yue menggunakan ilmu gaibnya dan mengagalkan seranganku. Kerajaan mengirimkan kasim Zhuo Feng untuk menyelidiki kekalahku, pejabat itu menuntut sogokan. Aku beritahukan padanya berapa keras kita mencoba untuk mengalahkan musuh dan dalam situasi seperti ini bagaimana caranya aku dapat mencarikan upeti untuknya. Dia pergi dengan marah dan melaporkan pada<br />
istana bahwa aku menyembunyikan pampasan perang dan tidak membagikannya dan itu membuat pasukanku kehilangan semangat. Jadi aku digantikan oleh Dong Zhuo, dan aku harus pergi ke ibu kota untuk menjawab tuntutan pengadilan.&#8221;</p>
<p>Cerita itu membuat Zhang Fei marah dan nyaris saja dia membunuh para pengawal-pengawal kerajaan itu. Tapi Liu Bei mencegahnya. &#8220;Pemerintah akan mengurusnya dengan adil&#8221; kata Liu Bei &#8220;Kau jangan bertindak gegabah.&#8221;</p>
<p>Akhirnya tidak ada gunanaya mengikuti jalan itu menuju GuanZong, Guan Yu mengusulkan agar mereka kembali ke Zhuo. Dua hari kemudian gelegar peperangan kembali terdengar dibalik bukit. Dengan cepat mereka menuju atas bukit dan melihat tentara pemerintah mengalami kekalahan. Mereka melihat seluruh dataran telah dipenuhi tentara pemberontak jubah kuning dan dibendera mereka tertulis: <i>Zhang Jue, Penguasa Langit</i>.</p>
<p>&#8220;Kita akan menyerang Zhang Jue!&#8221; lata Liu Bei kepada saudaranya, dan mereka memacu kudanya untuk ikut bertempur. Zhang Jue berhasil mengalahkan pasukan Dong Zhuo dan terus menekan. Dia sedang bersemangat untuk menghancurkan seluruh pasukan pemerintah ketika tentara Liu Bei tiba, pasukannya kebingungan karena muncul pasukan yang tak dikenal ditengah2x mereka. Akhirnya pasukan Zhang Jue kacau dan mundur sejauh 15 km. Liu Bei berhasil menyelematkan jendral pasukan pemerintah dan kembali ke perkemahan mereka.</p>
<p>&#8220;Apakah Jabatanmu ?&#8221; Tanya Dong Zhuo.</p>
<p>&#8220;Tidak ada&#8221; jawab Lie Bei.</p>
<p>Dan Dong Zhuo memperlakukan mereka dengan tidak hormat. Liu Bei pergi dengan tenang, tetapi Zhang Fei marah besar.</p>
<p>&#8220;Kita Baru saja menyelamatkan nyawanya dalam pertempuran yang sengit&#8221; teriak Zhang Fei, &#8221; Dan sekarang dia bersikap kasar pada kita! tidak ada apapun juga yang dapat meredam kemarahanku kecuali kematiannya!&#8221;.</p>
<p>Zhang Fei berjalan menuju tenda Dong Zhuo dan ditanganya dia mengengam sebilah pedang.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.tionghoa.com/164/bersama-menghancurkan-pemberontak/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Kaisar Hongxi (Zhu Gaochi)</title>
		<link>http://www.tionghoa.com/161/kaisar-hongxi-zhu-gaochi/</link>
		<comments>http://www.tionghoa.com/161/kaisar-hongxi-zhu-gaochi/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 23 Apr 2008 12:02:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Glent</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Dinasti Ming]]></category>

		<category><![CDATA[kaisar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.tionghoa.com/?p=161</guid>
		<description><![CDATA[Kaisar Hongxi (Hanzi: 洪熙, 1378-1425) adalah kaisar ke-4 Dinasti Ming. Terlahir dengan nama Zhu Gaochi （朱高炽）, adalah anak sulung dari Zhu Di. Dia mewarisi tahta setelah ayahnya mangkat tahun 1424 dan menamakan rezimnya Hongxi, namun dia meninggal setahun setelah bertahta dalam usia 48 tahun.
***
Kehidupan awal
Sejak kecil Zhu Gaochi dididik dengan baik oleh guru-guru beraliran Konfusius. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kaisar Hongxi (Hanzi: 洪熙, 1378-1425) adalah kaisar ke-4 Dinasti Ming. Terlahir dengan nama Zhu Gaochi （朱高炽）, adalah anak sulung dari Zhu Di. Dia mewarisi tahta setelah ayahnya mangkat tahun 1424 dan menamakan rezimnya Hongxi, namun dia meninggal setahun setelah bertahta dalam usia 48 tahun.</p>
<p>***<br />
<strong>Kehidupan awal</strong><br />
Sejak kecil Zhu Gaochi dididik dengan baik oleh guru-guru beraliran Konfusius. Ketika ayahnya melakukan kudeta dan menyatakan perang terhadap Kaisar Jianwen, dia bertugas menjaga kota Beijing. Hanya dengan pasukan berkekuatan 10.000 orang dia bertempur dengan gagah berani melawan 500.000 tentara yang pro-Jianwen.</p>
<p><span id="more-161"></span></p>
<p>Zhu Di berhasil merebut tahta dari Kaisar Jianwen tahun 1402 dan mengangkat diri sebagai kaisar dengan gelar Kaisar Yongle. Dengan demikian status Zhu Gaochi kini menjadi putra mahkota. Dia bertanggung jawab atas tugas-tugas kerajaan ketika ayahnya sedang melakukan ekspedisi ke utara. Namun demikian, Yongle lebih menyayangi dua adiknya yaitu Zhu Gaoxu dan Zhu Gaosui, bahkan dia berencana untuk mengalihkan status putra mahkota untuk salah satu dari mereka atas hasutan keduanya. Namun belakangan setelah Yongle mengetahui intrik itu, maka rencana tersebut pun dibatalkan dan Zhu Gaochi aman posisinya.</p>
<p>***<br />
<strong>Pemerintahan</strong></p>
<p>Tahun 1424, Yongle wafat dan dia mewarisi tahta dengan gelar Kaisar Hongxi. Begitu naik tahta, dia membebaskan dan merehabilitasi para tahanan politik yang pernah melayani Kaisar Jianwen. Jabatan dan gelar mereka dipulihkan, pendapat mereka pun didengarkan. Kaum terpelajar Hanlin banyak diangkat menempati posisi-posisi penting, merekalah yang membatalkan kebijakan-kebijakan militeristik Yongle yang tidak populer dan merestorasi pemerintahan sipil.</p>
<p>Dia menghentikan ekspedisi Zheng He dan perdagangan teh dan kuda di perbatasan utara, juga pencarian emas dan mutiara di Yunnan dan Annam. Pajak dihapuskan untuk daerah-daerah yang dilanda bencana sehingga para petani miskin pun lega. Dia juga membentuk suatu komisi untuk mengawasi perpajakan. Terhadap para pejabat korup dia bertindak dengan tegas.</p>
<p>Hongxi adalah seorang yang senang belajar, dia sering mendiskusikan sejarah dan karya-karya klasik dengan pejabat-pejabatnya, terkadang dia bahkan berani mengkritik dirinya sendiri di depan publik. Selain itu dia juga seorang yang murah hati dan mampu membaca aspirasi rakyat. Pernah suatu kali ketika melewati sebuah kecamatan dalam perjalanan kembali ke Beijing, dia melihat penduduk setempat memetik tumbuhan liar untuk dimakan. Dia pun berhenti untuk menyelidiki keadaan itu dan ketika mengetahui bahwa situasi menyedihkan ini disebabkan oleh serangkaian bencana alam, segera dia memerintahkan orang-orangnya untuk membagi-bagikan makanan dan uang pada mereka.</p>
<p>Hongxi pernah merencanakan memindahkan ibukota kerajaan yang sebelumnya dipindah ke Beijing oleh ayahnya kembali ke Nanjing, namun sebelum rencana ini terlaksana dia sudah keburu meninggal, kemungkinan karena serangan jantung, pada Mei 1425. Walaupun hanya memerintah sebentar, dia telah memberikan kontribusi besar bagi negaranya. Selama masa pemerintahannya cukup banyak kemajuan yang dicapai dan banyak kebijakan-kebijakannya yang meringankan sehingga rakyatnya hidup damai dan sejahtera. Keadaan ini masih berlanjut pada masa pemerintahan anaknya, Kaisar Xuande.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.tionghoa.com/161/kaisar-hongxi-zhu-gaochi/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Kudeta di Gerbang Xuanwu</title>
		<link>http://www.tionghoa.com/160/kudeta-di-gerbang-xuanwu/</link>
		<comments>http://www.tionghoa.com/160/kudeta-di-gerbang-xuanwu/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 23 Apr 2008 12:00:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Glent</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Dinasti Tang]]></category>

		<category><![CDATA[kudeta]]></category>

		<category><![CDATA[li shimin]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.tionghoa.com/?p=160</guid>
		<description><![CDATA[Kudeta di Gerbang Xuanwu (Hanzi: 玄武门之变, pinyin: Xuanwumen zhi bian, 2 Juli 626) adalah sebuah insiden yang merupakan puncak dari intrik keluarga Dinasti Tang antara putra-putra Kaisar Tang Gaozu (Li Yuan) yaitu putra mahkota, Li Jiancheng dan Li Shimin. Li Jiancheng yang iri pada Li Shimin bermaksud membunuhnya, namun Li Shimin yang telah mencium rencana [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kudeta di Gerbang Xuanwu (Hanzi: 玄武门之变, pinyin: Xuanwumen zhi bian, 2 Juli 626) adalah sebuah insiden yang merupakan puncak dari intrik keluarga Dinasti Tang antara putra-putra Kaisar Tang Gaozu (Li Yuan) yaitu putra mahkota, Li Jiancheng dan Li Shimin. Li Jiancheng yang iri pada Li Shimin bermaksud membunuhnya, namun Li Shimin yang telah mencium rencana ini mengambil tindakan pendahuluan dengan menyergap Li Jiancheng di gerbang Xuanwu, gerbang yang menuju ke istana Kaisar Gaozu. Disana Li Shimin membunuh kakaknya dan juga adiknya, Li Yuanji, yang mendukung Li Jiancheng. Setelah itu ia mengirim pasukan ke istana untuk menghadap ayahnya. Di bawah intimidasi, Kaisar Gaozu menyerahkan status putra mahkota pada Li Shimin dan turun tahta dua bulan kemudian serta menyerahkan tahtanya pada putra keduanya itu. Peristiwa berdarah ini terjadi di Chang&#8217;an (sekarang Xi&#8217;an, Provinsi Shaanxi)</p>
<p><span id="more-160"></span><br />
***<br />
<strong>Latar belakang</strong></p>
<p>Kaisar Gaozu memiliki empat putra dari pernikahannya dengan Putri Dou (meninggal sebelum Dinasti Tang berdiri, secara anumerta dijadikan permaisuri) yaitu Li Jiancheng, Li Shimin, Li Xuanba (mati muda tahun 614), dan Li Yuanji. Setelah Dinasti Tang berdiri, Li Jiancheng menjadi putra mahkota. Walaupun seorang jenderal tangguh yang telah memenangkan banyak pertempuran, namun ia kalah pamor dari adiknya, Li Shimin, yang membujuk ayahnya untuk mengambil inisiatif memberontak terhadap Kaisar Yang dari Sui dan berhasil mengalahkan para pemberontak seperti Kaisar Qin, Xue Rengao; Khan Dingyang, Liu Wuzhou; Pangeran Xia, Dou Jiande; dan Kaisar Zheng, Wang Shichong. Gaozu memberikan kuasa penuh pada ketiga pangeran itu, perintah mereka sama derajatnya dengan titah kaisar. Sejarah tradisional mencatat bahwa Kaisar Gaozu pernah mempertimbangkan untuk mengalihkan status putra mahkota pada Li Shimin yang lebih berprestasi, namun niat ini tidak terwujud karena Li Jiancheng didukung oleh Li Yuanji dan selir-selir kesayangannya. Hal ini lah yang membuat Jiancheng mulai merasa tidak nyaman dan dibayang-bayangi oleh adiknya itu.</p>
<p>Seiring berjalannya waktu, permusuhan antara keduanya makin meruncing, bawahan masing-masing saling mendesak junjungan mereka untuk bertindak terlebih dahulu. Suatu ketika Li Shimin sedang mengunjungi kediaman Li Jiancheng, dalam kesempatan itu Li Yuanji hendak membunuhnya, namun dicegah oleh kakaknya yang masih ragu melakukan hal itu. Bagaimanapun, Li Shimin masih menjadi momok bagi Li Jiancheng. Pada tahun 624, Li Jiancheng berencana untuk menambah pengawalnya dengan pasukan di bawah komando Li Yi (Luo Yi), pangeran Yan, suatu hal yang bertentangan dengan aturan kaisar. Kepala pengawal Li, Yang Wen&#8217;gan, takut dihukum dan kehilangan jabatannya sehingga memberontak. Untuk menumpas pemberontakan Yang, Kaisar Gaozu menugaskan Li Shimin dan menjanjikannya status putra mahkota bila berhasil menumpas pemberontakan itu. Namun ketika Li Shimin sibuk bertempur dengan pemberontak, Li Yuanji, Feng Deyi, dan selir-selir Gaozu melakukan intervensi dengan mendukung Li Jiancheng tetap sebagai putra mahkota. Kaisar Gaozu pun menetapkan putra sulungnya itu sebagai penerusnya, serta mengasingkan bawahannya Wang Gui, Wei Ting, dan seorang bawahan Li Shimin, Du Yan. Yang Wen&#8217;gan sendiri pada akhirnya berhasil dikalahkan dan dibunuh oleh bawahannya sendiri.</p>
<p>Setelah itu, Li Shimin meminta ijin ayahnya untuk meninggalkan Chang&#8217;an (ibukota Tang) untuk mengurus Luoyang (ibukota lama, bekas ibukota Dinasti Sui). Kaisar Gaozu menyetujuinya, namun Li Jiancheng dan Li Yuanji khawatir saudaranya itu akan menggunakan Luoyang sebagai basis untuk membangun kekuatan melawan mereka. Mereka pun memprotes rencana itu pada ayah mereka sehingga rencana ini dibatalkan. Mereka juga membuat tuduhan palsu bahwa Li Shimin melakukan tindakan kriminal. Berkat pembelaan Chen Shuda (adik mantan kaisar Chen terakhir, Chen Shubao), Li Shimin luput dari hukuman. Kedua pangeran itu tetap berusaha memojokkan Li Shimin, siasat mereka kali ini adalah mempreteli kekuatan Li Shimin satu-persatu. Para perwira dan ahli strategi yang pro Li Shimin seperti Yuchi Jingde (Yuchi Gong), Cheng Zhijie, Fang Xuanling dan Du Ruhui dicabut dari jajaran staff Li Shimin. Dalam kesempatan lain mereka juga mencoba membunuhnya dengan meracuni arak yang diminumnya ketika bertamu ke tempat Li Jiancheng. Namun Li Shimin sudah merasakan efek racun yang kerjanya perlahan namun mematikan itu sehingga dia buru-buru meminum penawar dan sembuh.</p>
<p>***<br />
<strong>Li Shimin membunuh kakak dan adiknya</strong></p>
<p>Musim panas tahun 626, jenderal dari Tujue Timur (suku Turki), Ashina Yushe, memasuki perbatasan Tang serta mengepung Wucheng (sekarang Yulin, Shaanxi). Biasanya yang menangani gangguan dari Tujue adalah Li Shimin, namun atas bujukan Li Jiancheng, Kaisar Gaozu memberikan tugas ini pada Li Yuanji dan pasukan dibawah Li Shimin dialihkan pada adiknya itu. Atas saran iparnya, Zhangsun Wuji dan Yuchi Jingde, Li Shimin yang takut kedua saudaranya akan memanfaatkan kesempatan ini untuk menghabisinya memutuskan untuk mengambil tindakan. Secara rahasia ia memanggil Fang Xuanling dan Du Ruhui ke kediamannya untuk menyusun rencana. Malamnya mereka mengirimkan laporan berisi tuduhan palsu terhadap Li Jiancheng dan Li Yuanji yang menyebutkan bahwa keduanya memiliki hubungan gelap dengan selir ayahnya dan berencana membunuhnya. Gaozu sangat terkejut dengan laporan ini, namun dia belum mengambil tindakan antisipasi, hanya mengatakan bahwa ia akan menangani masalah ini besok. Ia juga memanggil pejabat-pejabat tingginya seperti Pei Ji, Xiao Yu, dan Chen Shuda untuk membicarakan apa tindakan apa yang harus diambil selanjutnya.</p>
<p>Keesokan harinya, pagi-pagi sekali, Li Shimin dan Zhangsun Wuji berangkat ke istana kaisar dan menyembunyikan pasukannya di gerbang utara istana yang bernama Gerbang Xuanwu. Sementara itu, salah seorang selir Gaozu, Selir Zhang telah mendengar tuduhan palsu yang dibuat Li Shimin terhadap dua saudaranya. Dia pun secara rahasia membeberkannya pada kedua pangeran itu. Li Yuanji menyarankan untuk tidak melaporkan hal ini ke istana, yang harus dilakukan adalah mempersiapkan pasukan untuk berperang. Namun kakaknya, sambil menggerakkan pasukanm juga ingin menghadap ayahnya untuk membicarakan situasi, maka mereka bersama pasukannya bergerak menuju istana.</p>
<p>Ketika keduanya tiba di istana, barulah mereka menyadari ada sesuatu yang tidak beres. Mereka bersiap untuk kembali ke kediaman Li Jiancheng, namun terlambat, Li Shimin bersama pasukannya keluar dari persembunyian dan menyergap mereka. Li Yuanji menembakkan panah tiga kali pada Li Shimin, namun karena panik, semuanya meleset. Li Shimin membalasnya dengan menembakkan sebatang anak panah yang mengenai dan menewaskan Li Jiancheng. Menurut catatan dari Zizhi Tongjian karya sejarawan Song, Sima Guang, Li Shimin sebenarnya tidak ingin membunuh Li Yuanji. Ia mengejar adiknya yang mencoba kabur. Di hutan Li terjatuh dari kudanya dan kesempatan ini dimanfaatkan oleh Li Yuanji untuk membunuh Li Shimin dengan cekikan tali busur. Pada saat yang kritis itu, Yuchi Jingde tiba dan ia membunuh Li Yuanji dengan sebatang panah.</p>
<p>***<br />
<strong>Pasca kudeta</strong></p>
<p>Sementara itu, kepala pengawal Li Jiancheng, Feng Yi walaupun telah mendengar kematian tuannya, ia masih setia padanya dan memutuskan untuk terus berperang. Bersama perwira lainnya, Xue Wanche dan Xie Shufang, Feng memimpin pasukan Li Jiancheng dan Li Yuanji ke Gerbang Xuanwu dimana mereka berhadapan dengan pasukan Li Shimin. Pada awalnya mereka di atas angin dan berhasil membunuh dua orang komandan Li, Jing Junhong dan Lu Shiheng, namun tak lama kemudian Li dan Yuchi tiba disana sambil membawa kepala kedua pangeran. Moral pasukan itu langsung jatuh begitu melihat kepala kedua junjungannya, Feng dan Xue melarikan diri di tengah kekacauan itu.</p>
<p>Li lalu mengirim Yuchi ke istana lengkap dengan pasukan. Kaisar Gaozu sangat terkejut ketika Yuchi menghadapnya dengan pasukan. Ia bertanya apa yang dilakukannya di sini, Yuchi menjawab, &#8220;Putra mahkota dan Pangeran Qi (Li Yuanji) telah memberontak, Pangeran Qin (Li Shimin) telah mengirim pasukan dan menghukum mati mereka. Ia khawatir yang mulia akan terkejut sehingga mengirim hamba untuk melindungi yang mulia&#8221;</p>
<p>Kaisar Gaozu yang menyadari situasi telah demikian serius meminta nasehat dari Pei Ji, Xiao Yu, dan Chen Shuda. Xiao dan Chen menyarankan padanya agar menetapkan Li Shimin sebagai putra mahkota untuk menenangkannya. Atas permintaan Yuchi, Gaozu mengeluarkan titah yang memerintahkan agar seluruh sisa pasukan Li Jiancheng dan Li Yuanji menghentikan perlawanan dan tunduk pada Li Shimin. Ia juga memanggil putra keduanya itu menghadapnya untuk memberinya beberapa nasehat, di hadapan ayahnya Li Shimin berlutut dan menangis. Tiga hari kemudian ia mengangkat Li Shimin sebagai putra mahkota dan menyerahkan seluruh tanggung jawab negara padanya. Dua bulan setelahnya ia turun tahta dan Li Shimin menjadi kaisar berikutnya dengan gelar Kaisar Tang Taizong. Li Shimin menghukum mati seluruh putra-putra Li Jiancheng dan Li Yuanji, namun mengampuni para bawahan mereka.</p>
<p>***<br />
<strong>Legenda</strong><br />
Dalam naskah Dunhuang ada salinan berjudul Perjalanan Kaisar Taizong ke Alam Baka. Disini diceritakan bahwa, Li Shimin ketika sakit keras, jiwanya sempat berkelana ke alam baka dimana dia berjumpa dengan arwah kedua saudaranya yang menuntut balas, mereka menuntut agar Li Shimin diinterogasi oleh Raja Yama, penguasa alam baka dan dijebloskan ke neraka. Namun kisah ini hanyalah hasil rekayasa selama rezim kaisar wanita Wu Zetian untuk mendiskreditkan klan Li (keluarga Dinasti Tang) dan pendukungnya.</p>
<p>Legenda ini juga menjadi asal mula tradisi Dewa Pintu (门神). Konon untuk menghalangi hantu kedua saudaranya yang bergentayangan mengganggunya, Li Shimin memerintahkan dua jenderalnya, Yuchi Jingde dan Qin Qiong untuk berjaga di depan pintu kamarnya sepanjang hari. Namun karena keterbatasan tenaga, keduanya tidak bisa berjaga non-stop sepanjang hari. Sebagai gantinya dibuatlah lukisan kedua jenderal itu dan ditempelkan di sisi kanan dan kiri pintu kamar sang kaisar. Tradisi ini masih dipraktekkan oleh orang Tionghoa hingga kini untuk mencegah hal-hal yang buruk masuk ke rumah.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.tionghoa.com/160/kudeta-di-gerbang-xuanwu/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Bab 1 Bagian 1: 3 Pendekar Bersumpah Menjadi Saudara</title>
		<link>http://www.tionghoa.com/163/3-pendekar-bersumpah-menjadi-saudara/</link>
		<comments>http://www.tionghoa.com/163/3-pendekar-bersumpah-menjadi-saudara/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 Apr 2008 12:08:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kichigai</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Tiga Negara]]></category>

		<category><![CDATA[guan yu]]></category>

		<category><![CDATA[liu bei]]></category>

		<category><![CDATA[pendekar]]></category>

		<category><![CDATA[saudara]]></category>

		<category><![CDATA[sumpah]]></category>

		<category><![CDATA[zhang fei]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.tionghoa.com/?p=163</guid>
		<description><![CDATA[Di Kota Zhou hiduplah seorang yang sangat bersemangat, Dia bukanlah seorang pelajar kutu buku tetapi Wawasannya sangat luas dan pikirannya terbuka untuk banyak hal. Bicaranya tidak banyak dan pembawaanya sangat tenang. Tubuhnya Tinggi Tegap, matanya besar dan kupingnya lebar, tanganya kuat dan bahunya lebar serta memiliki bibir berwana kemerahan dan muka yang tidak pucat, matanya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Di Kota Zhou hiduplah seorang yang sangat bersemangat, Dia bukanlah seorang pelajar kutu buku tetapi Wawasannya sangat luas dan pikirannya terbuka untuk banyak hal. Bicaranya tidak banyak dan pembawaanya sangat tenang. Tubuhnya Tinggi Tegap, matanya besar dan kupingnya lebar, tanganya kuat dan bahunya lebar serta memiliki bibir berwana kemerahan dan muka yang tidak pucat, matanya bersinar penuh dengan semangat yang ada di dalam dirinya.</p>
<p>Dia adalah keturunan dari pangeran Sheng dari ZhongShan yang ayahnya adalah Kaisar JING (memerintah dari thn 157 SM-141 SM),kaisar ke 4 dinasti Han. Dia bernama <a href="http://www.tionghoa.com/120/liu-bei/">Liu Bei</a>. Lama sebelumnya salah satu kakeknya pernah menjadi gubernur didaerah itu, tetapi kehilangan jabatannya akibat kesalah yang dilakukannya pada suatu upacara kerajaan. Ayahnya adalah Liu Hong, seorang pelajar dan pejabat yang jujur tetapi seperti semua layaknya pejabat yang jujur waktu itu maka dia mati muda dan meninggalkan keluarganya hidup dalam kemiskinan dan Liu Bei terkenal karena dia sangat hormat kepada ibunya.</p>
<p><span id="more-163"></span></p>
<p>Pada saat itu keluarga Liu Bei sangat miskin dan Liu Bei mendapatkan uang dari hasil menjual sendal dan tikar jerami. Rumahnya berada disebuah desa tidak jauh dari kota Zhou. Didekat Rumahnya tumbuh sebuah pohon Mulberry (Yang biasa dijadikan tempat beternak ulat sutera) yang kalau dilihat dari jauh tampak seperti kanopi yang menaungi kereta kuda kerajaan. Tidak ada yang istimewa dengan rumah itu sendiri, tetapi pernah suatu ketika lewat seorang peramal yang mengatakan bahwa <i>&#8220;Suatu hari seorang yang hebat akan muncul dari rumah tersebut&#8221;</i>.</p>
<p>Ketika Kecil Liu Bei sering sekali bermain dengan teman-teman sebayanya dipohon itu. Dan dia suka memanjat pohon itu seraya berteriak <i>&#8220;Aku Liu Bei, adalah Putra Langit dan ini adalah kereta kuda ku&#8221;</i>. Pamannya Liu YuanQi melihat bahwa Liu Bei tidaklah seperti anak-anak umumnya dan merasa bahwa kehadirannya di keluarga Liu ini adalah sebuah pertanda.</p>
<p>Ketika Liu Bei berumur 15 thn, ibunya mengirimnya bersekolah (belajar lebih tepat maksudnya karena pada saat itu orang yang bisa bersekolah adalah yang kaya atau pintar sekali). Untuk beberapa saat Liu Bei melayani Zheng Xuan dan Lu Zhi dan dia menjadi teman dekat dari Gongsun Zan.</p>
<p>Liu Bei berumur 28 tahun ketika pemberontakan Jubah Kuning terjadi. Ketika Dia melihat Pengumuman mengenai perekrutan pasukan karena ada pemberontakah dia menghela napas dalam-dalam.</p>
<p>Tiba-tiba dari belakangnya terdengar orang berkata &#8220;Tuan, mengapa anda menarik napas jikalau anda tidak membantu negara dengan menjadi tentara ?&#8221; Berbalik tiba-tiba, Liu Bei melihat orang dengan badan yang tinggi besar. Dengan kepala yang bundar seperti kepala Macan Tutul, Mata yang besar, Dagu yang lebar dan suara seperti auman singa. Seketika itu Liu Bei sadar bahwa dia tidak berbicara dengan orang biasa-biasa saja dan dia menanyakan siapa namanya.</p>
<p>&#8220;<a href="http://www.tionghoa.com/119/zhang-fei/">Zhang Fei</a> adalah namaku&#8221;, Balas orang itu, &#8220;Aku hidup di dekat sini dan mempunyai pertanian, dan aku juga menjual arak dan daging. Aku juga suka berteman dengan orang-orang dan helaan nafasmu membuat aku tertarik untuk berbicara padamu&#8221;.</p>
<p>Liu Bei membalas &#8220;Aku masih keturunan kekaisaran, namaku adalah Liu Bei dan harapanku adalah bisa memadamkan pemberontakan jubah kuning tersebut tetapi aku tidak dapat melakukan apa-apa&#8221;.</p>
<p>Zhang Fei menjawab &#8220;Aku juga bermaksud sama. Bagaimana kalau kau dan aku bersama membangun pasukan dan melakukan apa yang bisa kita lakukan untuk masalah ini ?&#8221; Ini adalah kabar gembira buat Liu Bei dan mereka berdua akhirnya pergi ke sebuah penginapan untuk berbincang-bincang. Ketika mereka sedang minum-minum, tiba-tiba muncul di hadapan mereka seorang berbadan besar, tinggi dan mendorong gerobak besar tiba-tiba masuk ke dalam penginapan tersebut dan memanggil pelayan seraya berkata &#8220;Pelayan, Bawakan aku arak, dan cepatlah aku akan pergi ke balai kota untuk mendaftarkan diri menjadi tentara&#8221;</p>
<p>Liu Bei memperhatikan si pendatang itu, dan memperhatikan bahwa badannya sangat besar dan berjanggut panjang dan berwajah merah seperti apel. Bermata seperti Phoenix dan beralis seperti segulung sutera. Keseluruhan penampilannya memberikan aura bahwa dia adalah orang yang kuat dan memiliki kebanggan diri yang tinggi. Lalu Liu Bei mendekatinya dan menanyakan namanya.</p>
<p>&#8220;Saya adalah <a href="http://www.tionghoa.com/118/guan-yu/">Guan Yu</a>&#8220;, Balas orang itu, &#8220;Saya berasal dari seberang sungai, telah lima tahun saya menjadi buron karena saya membunuh seorang penjahat yang kaya dan berkuasa tapi menyengsarakan rakyat, saya kesini untuk masuk dalam ketentaraan&#8221;.</p>
<p>Dan Liu Bei pun akhirnya menceritakan tujuannya juga dan bersama dengan Zhang Fei mereka menuju pertanian Zhang Fei untuk membicarakan Rencana besar mereka.</p>
<p>Kata Zhang Fei &#8221; Pohon Persik di belakang Rumahku sedang bermekaran dan bunga indah sekali, besok kita akan mempersembahkan kurban untuk bersumpah sebagai saudara dihadapan langit dan bumi dan memohong pertolongan langit agar kita berhasil dalam tugas kita untuk menumpas pemberontak dan mendamaikan negara&#8221;.</p>
<p>Liu Bei dan Guan Yu setuju dengan rencana tersebut.</p>
<p>Bertiga mereka keesokan harinya mempersiapkan upacara, seekor lembu jantan, seekor kuda putih dan 3 cangkir arak dipersembahkan dalam upacara tersebut. Mereka lalu bersujud kepada langit dan bumi seraya bersumpah :</p>
<p>&#8220;Kami Bertiga, Liu Bei, Guan Yu dan Zhang Fei, Walaupun berbeda keluarga tapi memiliki satu hati dan bersumpah untuk saling mengangkat saudara dan membantu sesama sampai akhir. Kami bersumpah untuk saling membantu sesama dimasa susah dan menikmati kesenangan bersama dimasa-masa yang bahagia, Kami bersumpah untuk melayani negara dan rakyat. Kami Tidak dilahirkan di saat yang sama, tetapi kami bersedia mati di saat yang sama. Semoga Langit, yang Maha Kuasa, bumi dan semua hal yang menghasilkan mendengar sumpah kami. Jika Kami melupakan Sumpah ini dan kebaikan serta kebenaran maka biarlah langit dan bumi menyiksa kami.&#8221;</p>
<p>Mereka semua bangkit berdiri dan Guan Yu serta Zhang Fei membungkuk hormat pada Liu Bei, Liu Bei sebagai kakak tertua, Guan Yu no 2, Dan Zhang Fei no 3. Mereka menyembelih lembu tersebut dan mengadakan pesta syukuran bersama dengan penduduk desa, 300 orang datang dan bergabung dengan mereka dan bersedia bersama-sama dengan mereka untuk memperjuangkan negara demi terciptanya kedamain kembali.</p>
<p>Perjalanan Ketiganya baru akan dimulai. Langit mempertemukan mereka dan mempersatukan mereka dalam ikatan persaudaraan. Ikatan yang akan selalu dikenang sepanjang jaman, dimana tidak ada satu apapun dapat memisahkan mereka, tidak juga kematian. Persaudaraan sepanjang jaman demi menciptakan kedamaian di singasana naga.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.tionghoa.com/163/3-pendekar-bersumpah-menjadi-saudara/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
