Asal Usul Marga Fu (傅)

Asal Usul Marga Fu (傅)

Nama marga: Fu
Pinyin: Fù
Hanzi (Simplified): 傅
Hanzi (Traditional): 傅
Penulisan lain: Foo

Terdapat beberapa garis asal usul marga Fu (傅).

Keturunan kaisar legendaris Huang Di (黄帝), yaitu Da You (大由), dianugerahi tanah Fu (傅). Keturunannya mempergunakan Fu (傅) sebagai nama marga.
Continue reading »

Asal Usul Marga Qiu (邱)

Asal Usul Marga Qiu (邱)

Nama marga: Qiu
Pinyin: Qiū
Hanzi (Simplified): 邱
Hanzi (Traditional): 邱
Penulisan lain: Khu, Kau, Chiu, Kew, Yau, Khoo, Khoe

Pada masa Dinasti Zhou Barat, Zhou Wu Wang (周武王) menggulingkan Dinasti Shang dengan bantuan Jiang Ziya (姜子牙), yang dikenal juga sebagai Jiang Taigong (姜太公) atau Jiang Shang (姜尚). Jiang Ziya memiliki beberapa keturunan yang tinggal di Ying Qiu (营丘), sehingga Qiu (丘) menjadi marga mereka.
Continue reading »

Asal Usul Marga Liao (廖)

Asal Usul Marga Liao (廖)

Nama marga: Liao
Pinyin: Liào
Hanzi (Simplified): 廖
Hanzi (Traditional): 廖
Penulisan lain: Liu, Leow, Liau, Liaw, Liauw, Leeau, Lio, Liow, Leaw, Leou, Lau, Loh, Liu, Lieu, Liew, Lew

Terdapat beberapa garis asal usul marga Liao (廖).

Pada masa Dinasti Xia, keturunan Kaisar legendaris Zhuanxu (颛顼) yang bernama Shu An (叔安) diberi negara Liao. Generasi penerusnya mempergunakan Liao (廖) sebagai nama marga.
Continue reading »

Asal Usul Marga Jiang (姜)

Asal Usul Marga Jiang (姜)

Nama marga: Jiang
Pinyin: Jiāng
Hanzi (Simplified): 姜
Hanzi (Traditional): 姜
Penulisan lain: Kang, Gang, Geung, Gung, Chiang

Terdapat beberapa garis asal usul marga Jiang (姜).

Pada zaman Tiongkok kuno terdapat dua suku besar yang mendiami Lembah Sungai Kuning. Suku Ji (姬) yang dikepalai Huangdi (黃帝) dan suku Jiang (姜) yang dipimpin oleh Yandi (炎帝). Keturunan Yandi (炎帝) memakai Jiang (姜) sebagai nama marga.
Continue reading »

Asal Usul Marga An (安)

Asal Usul Marga An (安)

Nama marga: An
Pinyin: Ān
Hanzi (Simplified): 安
Hanzi (Traditional): 安
Penulisan lain: Ahn

Terdapat beberapa garis asal usul marga An (安).

Pada masa Dinasti Qin dan Dinasti Han, asal usul marga An (安) adalah dari Anxi, yang dalam bahasa lokal adalah “Arsacid”. Marga An (安) diberikan kepada rakyat di wilayah Arsacid, seperti An Shigao, keluarga kerajaan Arsacid.
Continue reading »

Kong Youde (孔有德)

Kong Youde (Hanzi: 孔有德, ?-1652) adalah seorang jenderal Dinasti Ming yang kemudian membelot pada bangsa Manchu. Ia banyak memberikan kontribusi bagi Dinasti Qing setelah bangsa Manchu memasuki Tiongkok, namun bagi orang Han / Tionghoa ia dianggap sebagai pengkhianat.

Kong lahir di Liaodong (sekarang Liaoning) dari keluarga penambang. Di masa muda ia pernah menjadi bajak laut. Kemudian bergabung dengan tentara Ming di bawah komando Mao Wenlong. Setelah Mao Wenlong dihukum mati oleh Yuan Chonghuan, wakilnya, Chen Jisheng menggantikannya memegang komando atas pasukan itu, namun tidak lama kemudian terjadi pemberontakan yang merenggut nyawa Chen. Kong lalu bergabung dengan pasukan yang dipimpin oleh inspektur militer kerajaan, Sun Yuanhua.

Continue reading »

Shi Lang (施琅)

Shi Lang (Hanzi: 施琅, 1621-1696) adalah laksamana Dinasti Ming yang kemudian membelot pada Dinasti Qing. Dia adalah komandan kepala dari armada angkatan laut Qing yang menaklukkan keluarga Zheng dan menyatukan kembali Taiwan yang telah bertahun-tahun sebelumnya menjadi basis perlawanan terhadap pemerintah Qing. Shi lahir dari keluarga terkemuka di Jinjiang, provinsi Fujian. Sejak usia muda ia telah mendalami strategi militer. Shi sangat cakap dalam seni berperang di laut, ia mengetahui cara-cara mengambil keuntungan dari pergerakan angin dan gelombang laut. Setelah mengikuti beberapa operasi militer di tingkat lokal, ia bergabung dengan armada pimpinan Zheng Zhilong sebagai kapten sayap kiri. Selama awal tahun 1640an, ia mengabdikan dirinya bagi keluarga Zheng, disana ia juga pernah terlibat perselisihan dengan Zheng Chenggong (郑成功), putra Zheng Zhilong (郑芝龙). Pembelotannya pada Qing tahun 1646 membuat murka keluarga Zheng. Zheng Jing, putra Zheng Chenggong, menghukum mati ayah, saudara laki-laki, dan putra Shi sebagai hukumannya.

Continue reading »

Ibusuri Xiaozhuang (孝庄文皇后)

Ibusuri Xiaozhuang (Hanzi: 孝庄文皇后, 28 Maret 1613-27 Januari 1688) adalah istri dari Huang Taiji, pendiri Dinasti Qing. Ia adalah salah satu figur yang berpengaruh pada masa awal berdirinya dinasti itu. Ia menjadi wali atas putranya, Kaisar Shunzhi dan cucunya, Kaisar Kangxi, yang naik tahta pada usia dini. Kedua kaisar itu dibantunya dalam mengurus pemerintahan hingga dewasa dan menjadi penguasa yang mandiri. Dalam sejarah Tiongkok, Ibusuri Xiaozhuang adalah salah satu tokoh wanita yang dihormati karena kebijaksanaan dan kepiawaiannya dalam politik.

Continue reading »

Sengge Rinchen (僧格林沁)

Sengge Rinchen (Hanzi: 僧格林沁, pinyin: Senggelinqin, 1811-1865) adalah seorang jenderal Tiongkok beretnis Mongol pada akhir Dinasti Qing. Ia berpartisipasi dalam pertempuran-pertempuran besar pada zaman itu seperti Perang Candu II, penumpasan Pemberontakan Taiping dan Nian, dimana ia menemui ajalnya. Sengge Rinchen lahir di Ke’erqin Bendera Hitam Kiri, Mongolia Dalam. Ia berasal dari klan Borjigit, satu klan dengan penakluk besar pada masa lampau, Genghis Khan. Berdasarkan silsilah, ia adalah keturunan ke-26 dari Khabutu Khasar yang tidak lain adalah adik Genghis Khan. Namanya sendiri berasal dari bahasa Tibet yang berarti ‘singa’ (Sengge) dan ‘harta’ (Rinchen). Pada masa muda ia hidup dalam kemiskinan, statusnya baru terangkat ketika diangkat keponakan oleh seorang bangsawan Mongol berkuasa di wilayahnya. Pada tahun 1825, Sengge menerima gelar kebangsawanan Junwang (郡王), yaitu pangeran yang berkuasa di tingkat kabupaten.

Continue reading »

Tan Sitong (谭嗣同)

Tan Sitong (Hanzi: 谭嗣同, 10 Maret 1865 – 28 September 1898) adalah seorang reformis pada masa akhir Dinasti Qing. Ia adalah tokoh kunci dalam Reformasi Wuxu atau yang juga dikenal dengan nama Reformasi Seratus Hari, sebuah gerakan politik yang bertujuan mereformasi sistem monarki feodal di Tiongkok.

Tan dilahirkan di Liuyang, Provinsi Hunan dari keluarga seorang pejabat rendahan. Ibunya telah meninggal ketika dia kecil sehingga dia hidup di bawah perlakuan buruk ibu tirinya. Sejak usia dini, ia sudah membaca banyak karya literatur dan sudah mengenal berbagai macam filsafat. Bersama ayahnya, dia mengunjungi banyak tempat di Tiongkok dari wilayah utara hingga selatan dan dari sana dia menyaksikan pahit getirnya kehidupan rakyat jelata.

Continue reading »